Title: The Last Word I Want To Tell You (Part 2)
Genre: Sad Romance, Friendship
Author: Danella Woo/ Choi JuhYe Daho.
Main Cast:
- Kim Sae Ri
-Kim Ki Bum
-Kim Jonghyun
-Lee Taemin
-Lee Jinki
-Choi Minho
Continued:
----------------------------
Part 2
----------------------------
Kim Sae Ri's Pov:
Aku hanya bisa tersenyum pahit melihat tawa dan senyum mereka lepas dan bahagia yang seakan-akan tidak ada beban sama sekali di hidup mereka. Aku tersenyum pahit bukan karena aku kesl atau benci dengan tawa lepas mereka, tapi aku berpikir sedemikian panjang.
'Bagaimana kalau mereka kecewa padaku nantinya?'
'Bagaimana jika aku ditinggalkan dan dijauhi mereka?'
'Akankah aku bisa melihat senyum mereka yang bagitu lepas dan bahagia besok, lusa, atau mungkin beberapa menit lagi?'
itulah yang terus aku pikirkan dibenakku. tapi..
"Akhh.." Kepalaku terasa pusing sekali, seakan aku sudah hampir tidak melihat hal yang harusnya aku lihat seakan ini. Sumpit yang kupegang di tangan kananku jatuh ke lantai karena tanganku seakan sudah tidak bisa memegang 2 buah batang sumpit yang bahkan beratnya mungkin tidak lebih dari 10 gram (*mungkin ya readers..)
Suasana tawa dan ceria berubah seketika saat mereka mendengar suara ringisan yang keluar dari mulutku.
"Sae Ri-ahh.. Kwaenchanayo?" Minho berusaha menahan badan mungilku yang hampir saja jatuh ke lantai. yah, seperti yang kukatakan tadi, untuk mengangkat kedua batang sumpit saja rasanya sudah tidak sanggup, apalagi menahan berat tubuhku sendiri walaupun tidak seberapa berat.
"Kwaenchanayo~ hanya sedikit pusing. mungkin karena efek dari obat yang kuminum tadi.." seribu alasan coba kucari dan kutelontarkan. Demi tuhan... Kepalaku pusingnya bukan main. 'Maaf teman-teman, aku terpaksa membohongi kalian, karena aku tidak ingin kalian mengasihani aku, aku hanya ingin kalian memperlakukanku sebagaimana kaian memperlakukanku sebagai seorang teman,' gumamku dalam hati.
"mmm... Tapi, ini sudah hampir larut. Maaf karena aku telah merepoti kalian..dan terima kasih karena kalian telah menolongku dan mau berteman dengan aku yang.." Aku ingat! aku tidak boleh mengatakan 'Ada Apa Dengan Diriku' yang sebenarnya.
"Yang?" semua mata di meja makan tertuju padaku penasaran..
" Aku baru ingat! aku ada kelas pagi besok.. Jadi aku harus segera pulang" lalu aku mempercepat langkahku, mengambil tas dan berlalu pergi menghampiri pintu keluar.
"Biar ku antar.." Key beranjak dari meja makan lalu menyusulku yang sudah 1/4 jauh dari letaknya sekarang.
"Baiklah.. Terima kasih" Senyum palsu yang sekarang terpasang di wajahku ini. aku sengaja memasang senyum palsu ini, agar semua lebih terlihat 'Baik-Baik Saja'..
Key's POV:
Aku memutuskan untuk megantarkannya pulang selagi aku juga penasaran dimana rumahnya, dan seperti apa tempat tinggalnya sekarang.
-@ Key's Car..
Aku menoleh sesekali melihatnya (Sae Ri) dari kaca Spion yang terpasang diatas, terlihat jelas wajah khawatir dan lamunan dalam yang terus menerus tidak teralihkan.
"Kita belok kearah mana setelah ini?" Aku berniat untuk memecahkan lamunan dalamnya itu...
"o-oh?.. Mian.. aku lagi menikmati pemandangan indah Seoul pada malam hari.. Kapan aku melihat pemandangan ini lagi, ya?" Dia memang tidak berkata dengan wajah yang super-serius, tapi kata-kata yang baru saja Sae Ri ucapkan terdengar seperti... Teka-Teki yang harus di pecahkan.
.. dan terdengar seperti ia akan pergi jauh dan takkan bisa kembali.. sungguh membingungkan..
"Nanti setelah perempatan sesudah lampu merah, kau hanya perlu lurus mengikuti jalan.." Lanjutnya.
"Arasseoyo.." Aku hanya menuruti pertintah yang seperti ia katakan barusan..
"dan Key.." Panggilnya dari belakang.
"Gomawoyo~" Lanjut Sae Ri sambil tersenyum manis di belakang..
"Anytime.. Tidak usah sugkan" Aku tersenyum balik lalu melanjutkan pandanganku pada jalan Seoul yang sepi karena ini hari kerja..
Beberapa saat kemudian...
"Stop!.. Kita sudah melewatinya.." Ia sedikit berteriak dan membuatku sedikit terkejut akibat teriakan yang nyaring bernada tinggi itu.
"Eotteohge? kita mundur saja.."
"Anio.. Kita bisa berjalan"
Aku dan Sae Ri bukan tiba di sebuah rumah atau apartemen, tapi..
"Taman Bunga?" Tayaku heran.
"Iya.. Aku selalu kesini sebelum pulang ke rumah.." Lalu kami duduk di sebuah kursi taman coklat di lapangan lepas yang penuh dengan bunga-bunga yang berwarna-warni sambil memandangi Bulan purnama...
Author's POV:
"Kenapa?" Tanya Keypenasaran...
"itu karena..dulu sebelum orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan, malam sebelum kecelakaan itu kami pergi ke tempat ini sambil duduk di tempat ini bersama-sama dan memandangi ke atas sana.." Sambil menunjuk ke arah Bulan Purnama bulat yang bersinar terang..
"Mianhae.. Aku tidak.." Key menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena feel-bad atas yang dialami orang tua Sae Ri.
"Kwaenchanayo... yang berlalu sudahlah berlalu.." papar Sae Ri.
Lalu suasana diantara mereka berubah menjadi suasana hening dan tenang di malam itu,.. hanya ada semilir angin yang mengibas bunga-bunga yang indah itu hingga bergoyang..
---
"Kau tidak kedinginan?" Suara Key memecah keheningan saat itu dengan bertanya.
"Tidak. Aku tidak kedinginan.. uhuk-uhuk.."
"Itu namanya kau kedinginan.." Lalu Key membuka jaket hitam yang bercorak abstrak putih yang dipakainya dan menyelimuti bahu Sae Ri dengan jaketnya.
"Lalu kau..."
"Tidak usah.. aku tidak uhuk-uhuk" Key juga kedinginan rupanya.
"Kau juga kedinginan.." Sae Ri melepas sisi jaket sebelah kirinya dan...
"Ayo kita pakai berdua..." Lalu Sae Ri bergeser sedikit kearah Key dan menyelimuti bahu kanan Key.
Dan sekarang mereka memakai jaket bersama sambil memandangi langit Seoul di taman bunga yang begitu indah di malam hari itu.
***
"
Gomawoyo~ sudah mengantarku pulang" Tentu saja kalau kita menerima bantuan dari orang lain harus mengucapkan 'terima kasih', bukan?
"Ahhh~ Cheonmaneyo~ lebih baik aku mengantarmu sampai rumah dengan badan dan nyawa yang utuh dari pada kalau aku harus membiarkanmu pulang selarut ini sendirian," Key yang salah tingkah terus menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau tidak mau minum kopi dulu?" Sae Ri khawatir kalau nanti Key kedinginan di perjalanan karena kedinginan menawarkan minum kopi panas bersama sebelum pulang, setidaknya tubuhnya masih mempunyai asupan minuman/ makanan yang hangat.
"Tidak, terima kasih. aku harus segera pulang, nanti Taemin marah-marah.. jika tidak kubuatkan dia susu sebelum tidur" Tidak tahu dan merasa ada yang lucu.. Kenapa Sae Ri terus tersenyum sedari tadi sejak di taman bunga itu? Seakan senyuman ini datang dengan sendirinya, dan perasaan aneh apa ini? Sae Ri merasakan ada perasaan janggal sejak bersama Key tadi.. Rasanya ada ribuan kembang api yang sedang diluncurkan secara cuma-cuma dalam dadanya (Sae Ri)...
"o-oh... yasudah kalau begitu, terima kasih dan salam pada semuanya ya! Hati-hati menyetir ya!" Sae RI melambai-lambaikan tangan diatas udara dingin..
"Aku Pergi.." Key melambaikan tangannya sekali di udara lalu pergi...
"dan.. Key"
"Ne?" Key yang merasa namanya do sahutkan tadi, menoleh kebelakang dan bertanya balik."Go-gomawo"
Lagi-lagi kata 'Gomawo' yang terucapkan Sae Ri..
Key hanya tersenyum hangat lalu berlalu pergi masuk kedalam mobil Mercedez Hitamnya. hal yang sama di lakukan Sae Ri, masuk ke dalam rumahnya dan...
"Aww.." Sae Ri meringis kecil sambill emegangi dadanya yang sakit. spontan Key yang melihat pasti ingin menolongnya...
"Kwaenchanasseoyo?" Key membantu menopang badan Sae Ri yang membungkuk lemas hampir jatuh ke tanah kotor dan kasar.
"Kwaencha..." Belum sempai memastikan dirinya tak apa, Sae Ri meringis kesakita lagi sambil memegangi dadanya... Lalu dia tak sadarkan diri..
***
Sae Ri's POV:
Aku terbangun di suatu tempat yang benar-benar cahayanya membuat mataku silau. Seluruh tanganku terisi oleh benda semacam selang bening yang berisi suaru cairan..
.di lengan kanan,ada selang pemompa darah..
.di telapak tangan kiri ada infus...
.dan pendeteksi detak jantung yang dijepitkan ke jempol kananku.
"Hyung!!! Hyung!!! Sae Ri noona sadar.." Teriak seseorang dari depan, Ya, siapa lagi kalau bukan si maknae Taemin. Suara hentakkan sepatu terdengar jelas sedang berlari menuju tempatku sekarang.
"Kau kenapa? kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" Minho cerewet kali ini, tidak seperti biasanya yang cool dengan ekpresi apa adanya dan pendiam, tapi kali ini, dengan ekspresi panik setengah hidup dia bertanya setumpuk pertanyaan padaku. Aku tahu dia khawatir...
Begitu juga yang lainnya, sibuk bertanya tentang 'Mana yang sakit?' 'Apa yang terjadi?' dan lain-lain...
"Aku baik-baik saja, dan akan baik-baik saja." Selaku di tengah-tengah ocehan mereka semua.
"Ayolah~ jangan kasihani aku! perlakukan aku seperti tadi saja, ya?"
"Tapi Sae Ri.." Ucapan oOnghyun lagi-lagi kupotong..
"Aku akan baik-baik saja... dan.. untuk Key.. ayo kita pergi ke taman bunga yang tadi kita kunjungi" aku mencoba memasang ekspresi wajah yang memasikan bajwa aku baik-baik saja, meski aku tahu aku sekarat.
***
"Wah.. cuaca disini semakin indah ternyata semakin malam" Lalu Key menuruti perintahku dan membawaku ke taman bunga yang biasa kukunjungi dengan mereka berlima.
Aku dan Key duduk di kursi taman itu di tengah-tengah sambil memandangi langit hitam legam yang dihiasi bulan purnama yang membulat di tengahnya.
sementara mereka ber-4 sedang berdiri di belakangku dan Key..
"Kemana semua bintang larinya?.. Key, tadi saat kita kesini bintang-bintang masih sangat banyak bukan?"
Tanyaku dengan ekspresi serius memandangi langit.
"em-em..." Key hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya karena aku tahu sekarang dimata Key sudah siap banyak bulir air mata yang akan keluar...
Key's POV:
Lama kelamaan kami semua hanyut dalam tenangnya malam,..
"Sudah tidak ada gunanya lagi disembunyikan...Kalian sekarang sudah tahu, kan?" Tanya Sae Ri menolehkan pandangan matanya terhadapku dengan wajah pucat dan bibir yang mengering.
"Apa?" Responku cepat.
"Inilah sebabnya aku tidak ingin dan tidak pernah mempunyai teman. aku terkena suatu penyakit yang terletak pada jantungku, jantungku lemah untuk menahan rasa senang, sedih, dan duka.. Aku tidak bisa...karena akan menggangu proses pemompaan darah jantungku, jadi begitu cepat.. dan aku tidak bisa menahannya... Aku tahu jika aku mempunyai teman, atau kekasih... aku pasti akan merasa antusias, senang, dan sedih setiap saat. dan..."
"Kalau begitu maaf.." Sela-ku.
"Aniya... kehadiran kalian terah mewarnai sisa-sisa hidupku sekarang ini. terima kasih.. dan maaf kalian harus mendengar hal yang tidak ingin kalian dengar ini. tapi ini sudah terlanjur terjadi.. aku belum pernah merasakan mempunyai teman-teman yang tulus dan baik padaku.." Sae Ri menoleh pada kami semua secara bergantian (SHINee).. "Terima kasih.. dan mungkin ini adalah kata-kata terkahir yang ingin ku katakan padamu Key..."
dan... *CHU~* sebuah kecupan bibir mendarat di bibirku...
"Joh-a-hae-yo... dan Sarang Haeyo..." Lanjutnya.
"dan.. Maukah kalian semua berkumpul di sebelahku untuk menikmati malam ini?" tawar Sae Ri pada semuanya.
"tentu saja.." Minho merespon cepat dan duduk disamping Sae Ri, diikuti JJong, Taemin , dan Onew...
"Selamat tinggal.. Bintangku yang bersinar..." itu kata terkahir yang diucapkan Sae Ri... sampai akhirnya kepalanya jatuh kedua lutut rapatku, dan nafasnya tak terdengar lagi..
"ya~ KIM SAE RI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" AKu berteriak-teriak membabi buta, tidak tahu apa yang harus kulakukan... tapi apa daya... kini Sosok Sae Ri yang kucintai telah pergi, aku mencoba sedikit demi seidkit untuk melupakannya, dan mengikhlaskanya..
"Selamat Jalan Kim Sae Ri... nado saranghaeyo~" Suara parauku keluar dari mulutku yang bergetar dan bulir-bulir ait mataku yang mengalir...
dan memulai hari esok dengan hari sebaik mungkin dari hari ini.
Kim Sae Ri, meninggal pada tanggal 8 November
2008...
-The End-