The Last Word I Want To Tell You (1st Part)
Main Cast:
*Kim Sae Ri
*Kim Ki Bum (KEY)
*Choi Minho
*Lee Taemin
*Kim Jonghyun
*Lee Jin Ki (ONEW)
Genre: Sad Romance, Friendshhip..
Author:
Choi Juhye Daho/ Danella Woo.
“Ya Ampun aku telat lagi..” gerutu pelan seorang gadis kuliahan yang berada di dalam bus.. ya, Siapa lagi kalau bukan gadis pendiam yang sama-sekali-tida-populer, Kim Sae Ri.
-Sampai Di Kampus-
Sae RI menaiki tangga dengan terburu-buru melangkahkan langkah kakinya. Sampai langkahnya berhenti karena ia menyadari bahwa ia telah menabrak seseorang.. Seseorang yang tidak lain adalah anak paling populer di Kampus, yaitu Choi Minho yang akrab disapa dengan Minho dan Kim Ki Bum yang biasa juga disebut dengan Key.
Sae Ri hanya menengok sebentar, membungkuk tanda permintaan maaf, lalu berlalu pergi.
“Jeoseong Habnida seosangnim..” Ucap Sae Ri pelan.
“Kau. Lagi-lagi kau.. Kim Saeri yang pendiam dan pemalas.. sering datang telat..”
Dosennya melihat dari atas sampai bawah yang Sae Ri kenakan..
“Indentik dengan Sweater.. Sekarang kau ku maafkan.. tapi kalau kau ulangi lagi..
KELUAR DARI KELAS!” kata dosennya yang berbicara dengan nada tinggi.
“Ghamsa Habnida..” Sae Ri berjalan kearah tempat duduknya yang terletak di pojok kiri kelas.
**
Terdengar suara Minho dan Key yang sedang berbincang dari kelas, semua mata tertuju pada mereka, terutama para Yeoja yang sedang ada di kelas.. Tapi tidak dengan Sae Ri,
dia tetap fokus menyelesaikan tugas dari dosennya, ‘membuat Lagu-Karangan-Sendiri’.
Saat bel istirahat berbunyi semua siswa dari puluhan kelas seakan tumpah dan berada
dimana-mana.. Tapi (lagi-lagi) tidak untuk Kim Sae Ri.. tetap saja ia membulatkan niatnya untuk menyelesaikan tugasnya..Menulis Lagu yang dikarang sendiri,
Sae Ri’s Pov:
“Sedang apa kau disini?” tanya seorang namja yang entah siapa, yang sedang berada beberapa Meter dari mejaku..
“Kau tidak lihat?” Jawabku ketus dan dingin.
“Eyy.. Coba saja kau pikirkan, bagaimana aku bisa melihat apa yang sedang kau tulis di dalam kertas itu dengan jarak sejauh ini, kecuali aku punya pengelihatan super yang bisa saja melihat apa yang sedang kau lakukan meskipun jaraknya lebih dari 100 meter..” Aku rasa namja itu sedang bermain-main denganku sekarang...
Aku menoleh kedepan lalu...”Neo..” wajah seorang namja yang sedang duduk di kursi yang jaraknya beberapa meter dari mejaku itu,.. “kurasa aku pernah mengenalnya.. Tapi dimana?!” Aku bergumam dalam hati dan berpikir.. sampai akhirnya, aku ingat siapa dia sebenarnya... “KEY!!!!” Keluhku dalam hati.
Aku memang menyukainya, aku akui itu, tapi aku tidak bisa menjadi temannya, sahabatnya, apalagi.. “Sudahlah tidak ada waktu untuk bermain-main denganku. Aku sibuk...” Aku menjawab kembali ketus dan kembali (lagi) meneruskan pekerjaanku yang sempat tertunda itu.
“Oh Iya, aku Kim Ki Bum..dan Kau?” ternyata namja itu (Key) masih saja tidak jera dan, terus saja melontarkan beberapa pertanyaan yang ia tujukan untukku..
Semakin aku merasa risih berada di dekatnya, aku berusaha meninggalkannya, beranjak dari tempat dudukku lalu berusaha pergi..
**
-@SU (*Seoul University) 08.00
Sekolah sudah semakin sepi, kebanyakan siswa telah memilih pulang ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat dan mungkin pula melakukan hal-hal yang mereka senangi untuk melepas stres akibat berkuliah lebih dari setengah hari.
Tapi tidak untukku, aku hanya fokus mencoba lagu yang baru kuciptakan ini di ruang musik dengan menggunakan Piano klasik yang berukuran besar sambil bernyanyi..
Minho’s POV:
Aku berjalan di tengah malam di kampus, di tengah gelapnya ruangan, hampir semua lampu yang ada di sepanjang jalan itu telah di matikan. Sekilas aku mendengar suara orang bernyanyi dan memainkan piano klasik dengan suara yang sangat merdu di dengar..
Aku menoleh dengan ragu dan perlahan, aku kira kampus ini berhantu, tapi ternyata, aku salah.. setelah aku melihat baik-baik dan perhatikan seksama lagi siapa sosok wanita didalam ruangan musik itu.
Dan ternyata yeoja itu bukanlah hantu, tapi..
“Tangga?!” Aku ingat aku menabrak bahu yeoja itu atau sebaliknya pagi tadi di tangga..” Lalu aku membuka pintu ruang musik itu..
Menyadari kedatanganku, Yeoja itu menghentikan permainnan pianonya yang indah dan suaranya yang merdeu.
“Sudahlah, tidak usah malu-malu. Aku kesini bukan karena ingin menggigitmu, tapi aku kesini karena penasaran siapa Yeoja yang bermain Piano dengan indah dan menyanyi dengan suara merdunya...” aku menghampiri yeoja itu dan duduk di sebelahnya.
“Biarkan aku mencoba piano ini..” aku mencoba memainkan lagu ‘Nothing Better’ ...
Sampai bait terakhir semapuku..
Nothing better, nothing better,. Than you..
Sae Ri’s POV:
Aku melihat ketulusa dan penghayatan yang di dalami oleh Namja itu ketika dia memainkan piano klasik itu sambil menyanyi..
Sampai akhirnya lagu itu selesai. “Wow~ Lagu yang indah..” Gumamku berbisik.
Lalu suasana disini menjadi canggung dan hening, sampai tiba-tiba lampu di ruang yang aku dan namja itu berada mati dan semua menjadi gelap gulita.
-Sae Ri’s POV ends-
Author’s POV:
Lalu.. Sae ri dan Minho terkejut dan reflek mereka berlari ke arah pintu untuk mencoba membuka pintunya. “ Terkunci..” Panik, Minho dan SaeRi mencoba meminta bantuan seadanya dengan menggedor-gedor pintu dan berteriak meminta tolong, begitu lama.. tapi hasilnya? Tidak ada seorang pun yang mendengar mereka dan memberikan bantuan. Semua yang mereka telah sia-sia, hasilnya NIHIL.
Sae Ri terduduk di lantai dengan memeluk kedua kakinya, dan Minho terduduk di kaki Piano dengan satu kaki kanan dilipat dengan tatapan kosong.
“Semua ini percuma, kita akan terkurung disini sampai pagi.” Gerutu Minho.
“Terpaksa kita harus menginap disini sampai pagi,” Sae RI menghadapi masalah ini
dengan kepala dingin, yap! Tentu saja, bagaimana bisa ia panik dalam situasi yang menjepit ini. Secara, dia adalah seorang cold-heart Sae Ri.
Keheningan belanjut sampai keheningan itu di pecahkan oleh suara Minho yang bertanya pada Sae Ri..
“Oh Iya.. Aku Minho, Choi Minho... dan kau?” Tanya Minho penasaran.
Sae Ri tidak langsung menjawab pertanyaan Minho, ia menghela nafas sejenak lalu kemudian menjawab.. “ aku Sae Ri, Kim Sae Ri..” Sae RI menjawab dengan sedikit rasa putus asa.
“Nama yang indah...” Puji Minho.
“terima kasih..” Jawab Sae Ri.
“dan.. ngomong-ngomong, aku jarang melihatmu berkomunikasi dengan temanmu saat dikelas atau pun di di luar kelas.”
“kau.. kau memperhatiknku?” Sae Ri terkejut dan tersentak dengan apa yang baru saja Minho katakan tentangnya.
“mm... iya, aku sesekali memperhatikanmu, karena kau selalu menjadi yang paling beda dari yang lain” kata-kata yang baru saja Minho katakan, entah kenapa langsung mengena ke dalam hatiku, tapi aku yakin kalau dia tidak bermaksud yang lain-lain.
“Kau tahu.. aku begini, aku seperti ini, dan terlanjur menjadi seperti ini karena aku punya alasan, alasan yang sangat kuat untuk menjalani hidup yang terasa berat, tapi juga ringan rasanya”
Ruangan ini terasa begitu hening dan sunyi beberapa detik...
Minho pun tidak memberikan jabawan atas pernyataan Sae Ri tadi.
Sae Ri’s POV:
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Minho walaupun itu hanya satu kata. Aku melambaik-lambaikan untuk memastikan kalau dia (minho) sudah tidur atau belum...
“Dia tertidur..” Segera saja Sae Ri melepas selendangnya untuk menyelimuti badan Minho yang tertidur lelap di sebelahnya.
-Pagi Harinya..
“Yah~ Kim Sae Ri.. bangun!” bisik Minho perlahan, tapi Sae Ri tetap saja tertidur pulas dengan bersandar di badannya (Minho).
“Sae Ri~ sudah pagi, ini sudah haru sabtu, pasti kampus akan tutup sebaiknya kita keluar dari sini sebelum tertangkap oleh Satpam-satpam yang menjaga di sekitar sini”
Minho tidak berani menyentuh badan Sae Ri yang kecil yang sedang tertidur pulas.
Minho membangunkannya dengan menyentuh badan Sae Ri dengan jari telunjuknya, tapi.. tubuh Sae Ri terjatuh seketika ke lantai dan mukanya sangat oucat. Rupanya ia bukan tertidur, melainkan Sae Ri pingsan di tempat! ( OoO)
Minho yang panik langsung saja melenephon sahabat-sahabatnya untuk meminta menjemput mereka di kampus.
Dengan terburu ia –Minho- memencet nomor-nomor kecil yang ada di ponselnya..
“Ini dia.. Key Hyung..” Lanjutnya, “Hyung! Tolong angkat telfonnya..” Saking ia panik bukan main, ia menggigit ke-empat jari-jarinya.
“Terima kasih tuhan.. Hyung! Cepat kesini..” kata Minho tergesa-gesa.
“Kena—“ Perkataan Key terputus karena diselak Minho yang sedang panik.
“Kampus kita, di ruang musik.. nanti aku jelaskan semuanya jika kau sudah sampai disini” Lalu dengan sigap menutup telefonnya dan kembali mengurusi masalah pingsannya Sae Ri yang begitu misterius penyebabnya.
“Demi tuhan.. apa yang terjadi padamu” gumam Minho.
**
Sae Ri’s POV:
“Noona.. Kau sudah sadar..” Terdengar seseorang yang setengah berteriak di hadapanku.
“Siapa kau..” Tentu saja orang yang tidak mengenal satu sama lain harus bertanya siapa dia atau siapa aku sebenarnya. “dan dimana aku.. kepalaku pusing sekali..” Lanjutku sambil memegangi kepalaku yang masih merasa pusing.
“Aku Taemin, yang di sebelah Kiri Noona ini JongHyun hyung, dan yang disebelah kanan Noona ini adalah Kakak tertua kami, Onew hyung” taemin memperkenalkan semua hyung-hyungnya padaku satu-per-satu secara berurutan.
“Maafkan aku kalau kau terkejut, aku yang membawamu kesini, kau ada di dorm kami.
Tadinya aku ingin membawamu ke rumah sakit terdekat, tapi takutnya disangka aku adalah keluargamu, aku tidak tahu-menahu soal dirimu, jadi aku tidak tahu kalau misalnya dokter bertanya penyebabnya, kapan kau mulai... begini dan begitu. Oh iya soal kesehatanmu, kau sudah enakan? Kau pingsan tadi malam dan badanmu panas sekali” Minho yang datang dari pintu di sebelah timur kamar itu dengan membawa segelas teh hangat dan cemilan kecil menjelaskan hampir lengkap padaku apa yang terjadi semalam.
“ohh.. kalau begitu Terima Kasih ya..” Aku beranjak duduk dari kasur yang kutiduri entah berapa lama ini.
“SARAPAN SIAP!~” sahut seseorang dari luar kamar. Semua segera berlari keluar untuk menyantap sarapan pagi mereka. Dan setelah kulihat keluar ternyata benar, tak lain dari seorang Key dengan skill memasaknya itu.
**
Aku terdiam melihat semua makanan yang berjajar rapi diatas meja yang oval ini.. “..A—“ aku mencoba mengeluarkan sepatah kata untuk bertanya ‘Siapakah yang membuat makanan se-banyak ini?’.
“Semua ini aku yang membuatnya. Cobalah dulu” Key yang menyambar tiba-tiba dan lalu mengambilkanku satu kursi tambahan untukku.
“Terima. Kasih” aku menduduki kursi.
Lalu merek semua berbincang dengan riangnya, sampai muncul kegaringan dari Onew yang membuat tawaku meledak keras seketika..
“Ayamku tersayang, maaf ya aku harus memakanmu..” Kata Onew garing sambil memegang paha ayam yang sudah tinggal setengah itu.
“Buahahahahahahahaha!!!!” aku tertawa keras sekali, sampai-sampai sulit untukku untuk memegang sumpit makanku.
“Akhirnya kami mendengar tawamu yang lepas sekarang” Jelas Onew dengan hati yang (mungkin) lega.
-TBC-