Please Take Care of My Wife
Main Cast:
Hyorin SISTAR 19
Lee Gikwang B2ST
Kim Jong Hyun SHINee
Lee Joon MBLAQ
Genre: Love Story, Sad Story, Friendship.
Description:
Seorang sahabat dekat yang setia selalu menjaga amanat terakhir dari almarhum sahabatnya. Kata-kata terakhir sahabatnya adalah...
“Please.. Take care of My Wife”
Sebelum sahabatnya meninggal.. hanya kata itu yang terakhir diucapnya. Ia meninggal karena kecelakaan lalu lintas di dekat jalan tol (kecelakaan mobil) dalam perjalanan pulang ke rumahnya dimana tempat ia dan istrinya tinggal..
Udah ah~ jangan kebanyakan clue...
Baca sendiri ya! ^^
Happy reading.. Author Dahee
FANFIC START!
Author’s Prov:
Hari itu, hari dimana Gikwang akan pulang dari tugas dinas keluar kotanya. Gikwang sengaja tidak memberitahu istriya Hyorin karena bertujuan untuk memberi kejutan yang sangat istimewa bagi istrinya yang telah 1 tahun menunggu kedatangannya kembali dan juga tentunya si cabang bayi yang baru berumur 6 bulan yang ada di perut Hyorin itu tentunya menunggu kedatangan ayahnya.
Tapi semua kebahagiaan itu diakhiri dengan duka yang amat mendalam.
-Di Rumah Hyorin-
Hyorin’s Prov:
Aku sedang mempersiapkan sarapan untukku dan calon bayiku ini. Rasanya hari ini aku sangat bahagia dan bergairah sekali, entah kenapa.
Tapi, saat aku sedang memotong wortel untuk di taruh di bubur ini, tanganku teriris pisau yang sangat tajam, lukanya juga cukup dalam. Jadi aku menghentikan aktivitasku yang sekarang ini dan langsung mengobati lukaku.
“aduh!..” reflek aku teriak karena kesakitan karena terkena ujung mata pisau selagi memasak.
“ada apa ya? Apakah terjadi sesuatu ya? Tapi kepada siapa? Perasaanku jadi tidak enak sekali.” Lanjutku.
-beberapa saat kemudian-
Beberapa saat kemudian setelah aku mengobati luka goresku ini, aku melanjutkan aktivitas memasakku, selesai aku memakan bubur yang kubuat, aku bergegas ke ruang Utama utuk menyalakan TV dan melihat berita pagi.
Begitu menyalakan TV dan memindahkan ke channel KBS2, ternyata ada berita kecelakaaan lalulintas.
“Pagi dini hari, terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas di luar jalur tol Seoul yang menewaskan satu orang dan satu orang lagi dalam keadaan koma. Kecelakaan ini diduga karena si pengemudi yang mencoba menghindari pengendara motor yang lalu menabrak pohon besar di trotoar.. si pengendara motor itu dikabarkan selamat dan tidak mengalami luka sedikit pun karena berhasil kabur...
Berikut nama--..” ucap pembawa acara berita pagi tersebut.
Author’s Prov
“wah.. kasihan sekali kerabatnya jika mengetahui kerabatnya meninggal tragis seperti itu.” Selak Hyorin...
Lalu ponsel Hyorin bergetar di meja telfon.
Drttt...drtttt...
Tidak lama kemudian Hyorin menjulurkan tangannya untuk meraih ponselnya yang berdering di sebelahnya itu.
“Yeoboseyo..” sapa Hyorin.
“ne... yeoboseyo.. apakah ini Nona Hyorin?... Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan kecelakaan tewas yang dialami oleh saudara Lee Gikwang di luar jalan tol.” Ucap pihak kepolisian.
“ne?.. tidak mungkin!” kata Hyorin yang setengah masih tidak percaya.
Setelah kembali menyalakan TV,
“Korban tewas dan luka-luka dalam kecelakaan tersebut:
-Lee Gikwang = 22 tahun, Luka-luka, Koma. (Penumpang)
-Song Sangju = 36 tahun, Meninggal (Sopir/ Pengemudi)” ternyata yang diberitakan di TV semuanya benar.
“ini.. tidak.. mungkin” kata Hyorin tidak percaya yang kemudian melepaskan ponselnya.
“terima.. kasih.. at-atas pemberi tahuannya,. Pak” lanjut hyorin terbata-bata.
“iya.. Nona. Sama-sama” jawab pihak kepolisian tersebut.
Tidak melamunkan apapun, Hyorin langsung menelefon sahabat dekat Gikwang, Jonghyun.
Jonghyun’s Prov:
Aku sedang menikmati sarapan pagiku di apartemenku. Tiba-tiba terdengar suara ponselku berdering di meja di ruang tamu.
Ring Ding Dong.. diggy ding.. ding ding
Aku segera berjalan menuju arah ruang tamu dan mengambil ponselku.
“yeoboseyo.. Hyorin-ahh!” kataku ramah.
“setel.. TV-mu!...” kata Hyorin terbatah-batah.
“ne?! Ye..ye” kataku...
Aku melihat dalam daftar korban kecelakaan ada nama Gikwang di dalamnya.
“antar aku kesana!” perintah Hyorin.
“bai-baik!.. kita kesana sekarang.. kau sudah siap Hyorin.. persiapkan barang yang mau kau bawa! Aku akan menjemputmu, aku ada di rumahmu 10 menit lagi1!’’ ujarku terburu-buru.
“ne..ne” Hyorin menjawab.
Aku bergegas memanaskan mobilku sejenak dan pergi ke tempat Hyorin tinggal...
Hyorin’s Prov:
-Sesampai di rumah Hyorin-
Tiin.. tin...
Ada Suara mobil yang mengelaksonkan klaksonnya di depan rumahku. Aku yakin itu pasti Jonghyun.
Aku mengintip keluar jendela.. dan benar itu ternyata Jonghyun.. aku menuruni tangga rumahku dengan hati-hati agar bayiku ini tidak terganggu.
-di dalam mobil jonghyun-
Aku sudah berada di dalam mobil Jonghyun bersama Jonghyun. Jonghyun segera menyalaka starter mobil dan jalan menuju lokasi. Beruntungnya kami belum terlambat, mereka masih disana untuk menangani Gikwang dan Sopir itu.
Mereka sedang memasukkan Gikwang ke Ambulance.. aku dan Jonghyun berusaha mendekati ambulan itu, tapi usaha dan niat kami dihadang oleh polisi, setelah kami memberi tahu bahwa kami ini kerabatnya, kami diizinkan menemani Gikwang di dalam Ambulan.
Beberapa saat kemudian setelah ambulan yang kami naiki ini jalan menuju arah rumah sakit atau klinik terdekat, Gikwang siuman dengan kondisi tubuh dengan berlumuran darah.
Jonghyun’s Prov:
Gikwang pun akhirnya siuman, aku dan Hyorin sedikit lega dan panik melihat kondisi Gikwang yang sekarat saat ini. Gikwang memanggil namaku dan membisikkan sepatah kata ingkat padaku.
“Jonghyun..ahh” sambil menahan sakitnya ia masih memanggil namaku dengan jelas.
Aku yang panik tentu saja langsung menanggapi responnya. “ne.. Gikwang-ahh...”
“PLEASE TAKE CARE OF MY WIFE” itulah sepatah kata yang Gikwang lontarkan sebelum ia kembali tidak sadarkan diri. Kata-kata ini sangat menyeramkan, menakutkan. Kata-kata ini seakan ia ingin meninggalkan kita, atau lebih tepatnya lagi mungkin ini kata-kata terakhirnya sebelum ia MENINGGAL. Semua itu tiba-tiba terlintas di pikiranku.
Tangisan Hyorin semakin lama semakim menjadi-jadi. Setelah mendengar perkataan tadi yang Gikwang ucapkan, Hyorin tidak sanggup lagi menahan isak tangisnya dan menangis sangat keras.
Seperti amanat yang Gikwang katakan tadi, aku harus menjaga istrinya dengan baik.
Aku berusaha menghibur Hyorin seadanya. Kondisiku saat ini juga sedang terkejut, jadi aku hanya bisa memeluknya dan terus memeluknya.
Dan akhirnya kami sampai di rumah sakit Ganggoo setelah 10 menit perjalanan,
-di ruang tunggu-
Aku dan Hyorin menunggu kabar dari dokter dari ruang ICU.
Dokter keluar dengan ekspresi wajah yang tidak baik, aku takut terjadi apa-apa dengan sahabat karibku, Gikwang. Aku dan Hyorin beranjak dari tempat duduk kami dan menghampiri dokter tersebut,
“Dok, bagaimana keadaan tuan. Lee Gikwang?” tanyaku cemas, dengan memeluk Hyorin disisi kananku dan berisap-siap mendengar jawaban yang mungkin pahit.
“maaf, nona, tuan. Pasien sudah menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan dalam ambulan tadi mungkin, karena begitu dibawa ke ruang ICU ini tuan Lee sudah tidak bernafas lagi.” Peraaanku benar, jawaban yang sungguh mengejutkan hati! Jawaban yang menyakitkan.
“apa..” kata Hyorin lemas, dan kemudian ia pingsan. Aku berusaha menahannya agar ia tidak jatuh ke lantai.
“HYORIN-ahh!!” teriakku panik. “dok! Tolong panggilkan suster!”
Sambil menggotong Hyorin yang terjatuh pingsan, aku berlari ke ruang UGD. Dan membaringkan Hyorin di tempat tidur pasien. Aku menunggunya dalam pemeriksaanya. Sampai akhirnya dokter selesai memeriksanya dan sedikit berbincang denganku.
“dok, bagaimana keadaannya?.. dia baik-baik saja kan dok?.. calon bayinya juga bagaimana?”tanyaku
“dia baik-baik saja. Tapi kalau terus diabaikan bisa jadi pengaruh buruk bagi dia dan juga cabang bayinya. Untuk sekarang ini bayi yang di kandungnya juga tidak apa-apa. Tapi tolong jaga dia baik-baik atau bisa beresiko tinggi seperti yang saya bilang tadi” jelas dokter itu.
“baik dok, terima kasih” jawabku.
“ya, sama-sama” balas dokter itu.
Sunnguh melegakan mendengar dia tidak apa-apa. Aku tahu Hyorin masih sangat terpukul atas kejadian ini, jangankan Hyorin, aku pun sangat terpukul, tapi aku berusaha menjadi lebih kuat untuknya.
Setelah 2 jam, Hyorin siuman. Aku juga segera mengantarkannya pulang karena takut terjadi sesuatu yang tidak baik terhadapnya dan kandungannya.
-dalam perjalanan-
“....”
Suasana hening menyelimuti suasana yang ada di mobilku ini. Sampai akhirnya aku memecahkan keheningan ini.
“aku akan menemanimu dulu untuk berjaga-jaga. Agar dirimu tidak apa-apa. Jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung membangunkan aku” tawarku.
“ne” Hyorin hanya bisa menjawab ia dan ia.
-sesampai di rumah Hyorin-
“dimana kamarmu?” tanyaku.
“dilantai 2, wae?” jelasnya.
“tidak, aku akan tidur di bedcover atau di sofa kamarmu.” Jawabku.
“baiklah...” kata Hyorin pasrah.
-Beberapa Hari kemudian-
Kondisi Hyorin sudah mulai membaik, dia sudah mau membuat sarapan lagi seperti dulu.
Aku juga sambil menjaganya membuat sarapan yang berada di sampingnya. Tiba-tiba Hyorin meringis kesakitan dan memegangi perutnya..
“k-Kenapa?.. ada yan sakit?” tanyaku memastikan keadaanya.
“ada... bayiku... ini waktunya...” jawabnya.. ternyata benar, dia pendarahan. Tanpa berpikir aku membawanya masuk ke dalam mobil dan mengantarkanya ke rumah sait terdekat. Ternyata dalam kondisi yang tergesa-gesa seperti ini jalan raya juga macet,
“apa-apaan ini?!..” kataku kesal “jangan khawatir Hyorin! Aku akan menggendongmu.!” Aku nekad untuk menggendongnya sampai ku temukan rumah sakit terdekat.
“Jonghyun-ahhh!!” teriak Hyorin..
“iya Hyorin.. sabar sebentar lagi! Tahan sebentar lagi!” jawabku sambil berlari kesana-kemari dan bertanya pada orang-orang dimana rumah sakit terdekat.
-sesampai di rumah sakit-
“SUSTER!! DOKTER!! TOLONG KAMI!” teriakku. Lalu dokter dan suster segera datang menghampiri kami. “dokter tolong1 sepertinya dia ingin melahirkan..” kataku panik.
Menjelang persalinan aku menunggu diluar. Aku terus menggigit kuku-kuku jariku karena aku terlalu panik. Lalu dokter keluar dari ruang persalinan dan mengatakan kalau aku harus membantu persalinannya.
“Tuan.. mari ikut saya dan pakai baju ini. Anda harus membantu persalinannya.”
“tapi.. dok—“ “baiklah!” aku menjawab dengan ragu.
Aku masuk ke dalam dan lalu mendengar suara teriakkan Hyorin. Aku menggenggam tangannya dan memberinya semangat,
“kau harus kuat!... lahirkan anakmu!..” kataku memberi semangat.
“sakittt..” teriak Hyorin..
“iy..iya.... bagaimana pun kau harus melakukannya! Ayo! Aku ada di sampingmu!”
Dan kemudian..
Tangisan bayi terdengar keras di telingaku, aku bukan ayah dari bayi ini. Tapi aku merasa sangat tenang dan bahagia mendengar suara tangisan bayi dari Gikwang dan Hyorin ini. Gikwang sangat beruntung bisa segera mempunyai momongan.. Gikwang pasti sedang tersenyum bahagia diatas sana.
Melihat ekspresi Hyorin yang bahagia juga sangat melegakan, aku bukan suaminya, tapi aku bisa mrasakan kebahagiaannya.
Setelah itu, Hyorin dipindahkan ke ruang rawat inap dan bayinya juga dipindahkan ke BABY’s Room.
Setelah beberapa jam, Hyorin dan aku pergi ke kamar bayi untuk melihat Bayi yang baru saja Hyorin lahirkan.
-setelah tiba di kamar bayi-
Hyorin dan aku berdiri berdampingan didepan ruang/kamar bayi yang dihalangi kaca.
“ Wajahnya sangat mirip dengan Gikwang...” kata yang mengharukan keluar dari mulut Hyorin.
“kau benar,” jawabku. “tapi, coba kau lihat baik-baik! Hidung dan mulutnya mirip denganmu!” kataku sambil menarik Hyorin kedekapanku.
“kau benar” jawab Hyorin.
Kemudian, Hyorin memutuskan untuk pulang ke rumah dan merawat bayinya dirumahnya.
-di perjalanan-
Hyorin sangat gembira bahwa ia punya Little Gikwang dan dari tadi hanya sibuk bermain dengan bayinya.
“aku ma beri nama dia Joon karena dia lahir di bulan Juni dan Lee untuk nama belakangnya dari nama ayahnya.” Kata Hyorin.
“ya.. nama yang bagus.. tapi Hyorin..” aku menaruh jeda pada perkataanku.
“tapi apa?” tanya Hyorin.
“bagaimana.. jika aku menjagamu dan Joon untuk selamanya selayaknya ayahnya dan selayaknya suamimu sesuai amanat Gikwang padaku dulu.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.
“baiklah.. mari kita menjadi orang tua yang baik bagi Joon. Menjaganya di waktu sakit, menghiburnya disaat sedih, dan ada di sisinya saat dia senang!” jelas Hyorin.
Author’s Prov:
Sejak saat itu, Hyorin, Lee Joon dan Jonghyun selalu hidup bersama-sama selayaknya keluarga kecil dan mengalami masa-masa senang dan sedih bersama.
Mereka melewatinya dengan penuh semangat dan kebahagiaan setiap harinya. Lee Joon juga menganggap Jonghyun sebagai ayah kandungnya.
THE END
No comments:
Post a Comment