Pages

Sunday, December 18, 2011

Acciently Married Couple (Part 2)



-Preview-

“Kau?”

“Kau?”

-Continued-

So Ah POV:

“Kenapa kau bias sampai ke sini?” Tanya namja itu.

“Harusnya aku yang bertanya! Kenapa bias kau ada disni?” selakku cepat.

‘maldo andwae’ (* Tidak mungkin!) Dia calon suamiku? Ya tuhan.. hidupku sepertinya sudah benar-benar hancur karena harus bertemu makhluk seperti namja ini. Sudah sial aku setiap hari jika dapat hukuman dari seosangnim, soal baju sial, apalagi soal pernikahan ini yang ternyata calon suamiku nantinya adalah si orang GILA sombong ini?. Rasanya aku mau tewas di tempat!

“Oh.. jadi kalian sudah saling mengenal..” Eomma menghampiri dan memelukku dari belakang. 

Harus jawab apa nih?.. Kita kan kenal secara tidak baik-baik!. “uummm…” Aku hanya tersenyum masam sambil berpikir. “ Iya, Eomoni.” Namja itu menjawab. Secepat itukah dia memanggil ibuku dengan sebutan ‘Eomoni’? rasanya canggung sekali..

“Ayo masuk.. Ibu akan membuatkan the madu hangat untukmu, Ki Bum..” Oh, jadi dia yang bernama kibum-kibum itu.. Sikapnya tidak sebagus namanya. Dan mungkin, dia anak tiri kali, ya? Eomma, Appanya baik banget, murah hati , dan gak sombong. Lah anaknya ini? Kebalikan dari sikap ibu bapaknya!

“ Kalian duduk disini berdua aja.. biar kami orang tua yang membicarakan soal pernikahan ini ya!..” Eomma mendorongku dan Ki Bum ke ruang rias.

“n-ne… gamsa habnida, eomoni..” Sepertinya Ki Bum masih canggung. Tapi, Ahh~ otakku rasanya masih gak bias berpikir lurus dan mencerna semua kejadian ini!.

Aku tersenyum paksa dan melihat punggung eomma yang meninggalkan kami, semakin lama semakin jauh dan akhirnya tak terlihat. Begitu eomma menutup pintu.. “Ya~ kamu bukan… calon istriku, kan?” Tanya Ki Bum seolah tidak percaya. “dan kenyataannya..semua itu benar!aku juga tidak suka kau menjadi suamiku.. harusnya aku bias bersenang-senang di sekolah bersama teman-temanku.. tapi kau! Telah merebut semuanya..!” Jutekku sambil membalikkan badan membelakanginya… “Yaa~ dengar!memangnya aku disini mau kau menjadi istriku? Kau jauh dari tipe idealku tahu!” Eh? Maksudnya apa berkata begitu? memangnya aku se-jelek itu apa? “Ishh~ yasudah sekarang cobalah bersikap selayaknya pasangan..” katanya pasrah..

MWO?! Layaknya pasangan!? ANDWAE!!! “Tidak mau..” tolakku mentah-mentah. “Tunggu dulu.. aku belum selesai bicara!” gerutunya pelan. “Baiklah.. lanjutkan..” aku melipat kedua tanganku di bawah dada. “Jadi.. bagaimana kalau kita menjalin pernikahan kontrak..”

“eh?” tanyaku heran. Pernikahan kontrak?

“ Jadi kita bias bersama selama satu tahun.. dan selebihnya jika kontrak itu habis, kita bisa menentukan atau memilih masih mau lanjut atau berpisah..” Jelasnya lengkap.
Idenya bagus juga! Kalau begitu masri kita coba saja dulu..

“ Joh-a-yo! Kita coba dulu. Satu tahun!” jawabku lekat. Aku mengangkat satu jari telunjuk kea rah depan wajahnya. “ Yaa~ bagaimana pun juga aku yang lebih tua. Panggillah aku dengan sebutan ‘Oppa’ arasseo?..” ‘Oppa?’ SHILEO!! Dia memang lebih tua dariku, tapi kurasa sifatnya tidak jauh lebih berbeda dari anak-anak TK yang berumur 5 tahun.. wkwkwkwk.

“Apa kau bilang.. Mau matiiya..” Tiba-tiba Eomma datang membawa dua cangki kecil yang berisi minuman entah apa itu dan sedikit cemilan untuk dimakan. Eomma bingung karena melihat tangan ki bum berada diatas kepalaku..


Ki Bum’s POV:

O’Ow.. bagaimana ini? “eh?. Eomoni..” aku berpura-pura mengelus-elus poni yeoja itu sambil tersenyum-senyum palsu.

“Aigoo~ kalian memang sudah akrab ya?” sungguh serasi…” Kami berdua hanya diam sambil menggaruk-garuk kepala salah tingkah.  “ah. Ibu tidak ingin mengganggu, jadi silahkan lanjutkan saja ya..” aku hanya menundukkan kepala sambil tersenyum palsu seperti biasanya.

****

So Ah’s POV:

Hari yang mengerikan itu akan tiba dalam hitunagn jam lagi. Bagaimana ini? Aku tidak akan pingsan,’kan? Bagaimana nanti kalau dia salah mengucapkan ijab Kabul (*istilah islam, abis istilah umumnya gk tau) ? “ Noona..” Min Woo datang dari arah pintu masuk, dia terlihat tampan. ‘Wahh~ dongsaeng noona ini ternyata tampan juga ya!” Aku mengacak-acak poninya, 

“ Noona juga saaaaannggattt cantik” katanya sambil tersenyum ramah. “ Kau, kapan kau akan mengikuti jejak noona.. capetlah berikan Noona keponakan, ya!” aku tertawa geli melihat pipi Min Woo yang kunjung memerah.  “Ah~ hentikan! Harusnya aku yang bilang begitu, berikan aku keponakan yang tinggi dan gagah seperti Ki Bum hyung jika anaknya laki-laki, dan cantik serta manis seperti Noona kalau anaknya perempuan nanti ya!” aku hanya diam tertunduk dalam rasa malu. “ Hentikan.. Sudah sana temani appa dan eomma di ruang penerima tamu.!” 

Aku mendorong Min Woo keluar lalu menutup pintunya rapat. “Huffttt.. hampir saja aku SKAKE MATE di bantai sama Min Woo..(?)”

****

KiBum’s POV:

Aku  dan ayah sibuk bersalaman pada tamu yang member kami selamat, dari mulai keluarga sampai rekan-rekan kenalan Appa di kantor, aku tidak menyangka tamunya bakal jadi sebanyak ini dan acaranya jadi meriah banget. Tapi aku dan So Ah sengaja tidak ingin mengundang teman sekolah kami. Karena. Ya, ahu sendiri lah kalo mereka tahu. Bisa-bisa popularitasku hilang Karena status baruku sekarang adalah ‘MENIKAH’.

*****

#Tok Tok Tok..

Terdengar seseorang mengetuk pintu dari seberang sudut. Aku mendekati pintu it untuk tahu siapa yang ingin mencariku. “Masuk..” aku membuka pintunya.

“Cheukkhae!!” Ina langsung menyerbuku dengan pelukannya. Dia memang sahabat yang paling mengagumkan yang pernah kukenal. “ Ina.. Gomawo~” sial, kali ini air mataku berhasil dengan sukses mendarat di pipi yang penuh dengan make-up. “shhh~ jangan menangis. Kau akan merusak make-up mu..” Ina menghapus air mtaku yang sudah turun, aku tahu dia juga ingin menangis, matanya pun sudah berkaca-kaca sekarang. Tapi dia berusaha menguatkan dirinya untuk tidak membuatku menangis… itu yang kutahu sekarang. “ ohh~ pernikahanmu hampir di muali, ayo bersiap ke pintu utama untuk berjalan dengan ayahmu.” Ina berlari kecil menuntunku dan memegang bawahan baju pengantinku yan menjuntai panjang. “ah mada!..”

****

Kibum’s POV

“ Tuan Kim Ki Bum.. apakah anda siap menerima Kim So Ah sebagai mempelai wanita anda pada saat sehat maupun sakit, kaya atau pun miskin, dan  sehidup semati?”

“Ya, saya menerima nona Kim So Ah sebagai istri saya pada saat sehat atau pun sakit, kaya atau pun miskin, dan sehidup semati..” Tapi, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sungguh cepat dan tidak karuan begitu bertatap muka dengannya? Apa karena aku gugup harus mengucapkan ikrar sumpahku di depan ratusan orang?

“ Nona Kim So Ah.. Apakah kau menerima tuan Kim Ki Bum sebagai suami anda pada saat sehat atau pun miskin, kaya atau pun miskin, dan sehidup sematii?”

So Ah kelihatan sangat gugup, wajahnya berubah menjadi pucat seketika. Aku tahu dia pasti akan menerimaku bagaimana pun juga.

“Ya.. Aku menerimanya.” Dia menjawab sambil menatapku dengan raut wajah super-pucat. Tapi kalau dilihat-lihat. DIa lucu juga saat ekspresinya berubah menjadi seperti ini!

“sekarang..saya nyatakan, tuan Kim Ki Bum dan Nona Kim So Ah telah sah menjadi suami-istri..” Kudengar sang pendeta memukulkan palu sebanyak tiga kali dan disusul dengan suara tepuk tangan yang merih dari para kerabat yang datang.


Author POV

Mereka mencoba mengambil langkah pelan untuk berciuman, ulai dari mencondongkan badan mereka secara perlahan, memajukan langkah mereka dengan kaki yang gemetaran, sampai akhirnya memiringkan kepala.. dan..

“ Aku belum siap untuk berciuman denganmu..” Kibum menutupi adegan ciuman palsunya dengan tangannya yang seolah-olah memegangi pipi So Ah.

“ Aku bahkan tidak ingin merasakan satu ciuman pun darimu!”  So Ah menyerkitkan gigi-giginya menahan rasa kesal.

******

So Ah POV

“ Memangnya eomma sama appa kita beneran niat kali ya? Mau nikahin kita sampe – sampe nyiapin mobil pengantin segala..” Kataku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berkeliling keseluruh sudut mobil mewah ini yang dihiasi bunga besar di tengahnya,

“Cepat naik, jangan terlalu over deh!” Ki Bum menarikku kasar ke mobil sambil tersenyum-senyum palsu ke arah orang tua kami yang sedang melambai kea rah kami.

“Jalan pak..” Kibum memerintahkan supir yang keluarganya sewa untuk menyetirkan mobil untuk kami. Tidak lama kemudian mobil sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mereka (*keluargaku dan Kibum). Kibum melepaskan rangkulan tangannya dan menjauh dari posisiku ke posisi pojok kanan.

Seperti biasanya, tampang dan lagak-lagak belagunya keluar lagi.. Kibum mengibaskan jasnya sombong, kembali memasang kaca mata hitam kesayangannya yang selalu ia bawa kemana-mana. “ Memangnya aku ini sekotor itu apa?” aku mencibirkan bibirku melihat reaksinya yang begitu berlebihan. Memangnya aku sekotor itu apa? Pake mengibas-ngibaskan jas segala! ‘dsar namja egois! Bodoh! Tidak tahu diri! Dingin!..ARGGHHH~’ aku terus mencaci Kibum dalam hati. Mengepalkan tangan erat-erat, tidak sadar! Keluar tetes demi tetes darah segar dari kepalan tanganku karena kepalan tanganku yang mungkin terlalu kuat. “Aww~” aku meringis kesakitan menyadarii hal itu.


Ki Bum’s POV

‘ Dasar yeoja cengeng!’ itulah respon pertama yang kuucapkan dalam hati akibat mendengar ringisan yeoja itu. Masa cuman gara-gara kesal denganku, dia sampai hampir nangis gitu sih? Aku mencibirkan bibirku kerut keatas, lalu menengok kecil kearahnya..

“ Yaa! Apa yang kau lakukan?” Aku terlonjak kaget melihat begitu banyak darah segar yang menetes dari telapak tangan kanannya. Darah itu mengotori lapisan rok dari baju pengantinnya. Panik, aku membuka kaca mata hitamku dan menjatuhkannya ke sembarang tenmpat untuk mencari kotak P3K. “ Ishhh~” aku meraih sekotak tisu yang erletak di dashbor mobil dan meraihnya. “ Apa yang kau perbuat sampai bisa berdarah sebanyak ini Sih?!” Jujur aku hanya SEDIKIT khawatir padanya. Ada banyak datah yang mengalir, berarti kan luka itu sakit sekali!.  “ aku hanya menahan amarahku dan mengepalkan tanganku seperti i..” wanita itu memang sungguh benar-benar polos atau bodoh sih? Sudah terluka masih saja ingin mempraktikkan cara dia mengepalkan tangannya itu! “eh… Jangan! Nanti tambah parah!!” aku menhentikan tindakkan bodohnya untuk memperagakan kejadian itu ulang dengan cepat!.

Aku terus mengelapi tetesan-tetesan darah yang mengalirdari dalam telapak tangannya. Aku mencoba untuk sangat hati-hati untuk melakukannya. Tapi tetap saja.. “Aww~” So Ah meringis pelan sambil menarik tangannya kecil. “ Sudahlah jangan  cengeng!” kataku dingin, aku masih saja tidak bisa melepaskan pandanganku pada tangan putih yang penuh darah ini.

Aku menangkap tatapan matanya dengan seulas senyum tipis yang tertera di wajahnya. Aku menoleh kearahnya sambil tersenyum sebelah sisi.. “ Kamu terpesona dengan kebaikan hatiku dan ketampananku ya?” tatapku jahil.  “ Ishh~ dasar namja egois gak tahu diri..” dia melepaskan tangannya kasar. “ Aww~” dia meringis kesakitan. Lagian sih~ kualat kali dia!     “ 

Makanya jangan mecam-macam! Kualat kan tuh!.. Sudah sini!” au menarik lengannya untuk kembali mengobati telapak tangannya.

Kuamibil dan teteskan Betadine ke balutan perban dan kulilitkan pada So Ah. Meniup-niupnya untuk mengurangi rasa sakitnya. “ Go-.. Gomawo” Aku tahu dia gengsi untuk mengatakan hal ini. “Sudahlah jangan di paksakan kalau tidak mau mengatakannya!” responku dingin. “ ANIYA! 

Siapa yang berppura-pura! Beginilah ekspresiku mengucapkan terima kasih pada orang yang menolongku..” Ekspresi wajahnya bercampur aduk sekarang mungkin, diantara gengsi, malu, canggung, berterima kasih, kesal, marah.. “ Kau ini..” pekikku pelan, aku memalingkan wajahku untuk menatap pemandangan luar kota, disini hanya tersisa jalanan dan laut tanpa ujung. 

Tersenyum kecil mengingat-ingat kejadian tadi.

*****

“ Sudah sampai, Tuan..”  Akhirnya sampai juga. Rasanya punggungku udah sakit-sakit semua. Aku bersandar di ujung pintu sambil menghidrup udara segar dan menikmati indahnya pemandangan laut lepas. Tapi.. mana si cerewet? Kubuka pintu mobil yang kusandari..

Kubuka pintu mobil sisi kiri yang di tempati So Ah. Dan…

So Ah POV

#GUBRAKKKK

“Wadaw!.” Aku mengelus-elus kepalaku yang terbentur ke tanah. Sial sekali diriku ini. Bahkan sampai aku sudah menikah pun rasanya hidupku ini belum terlepas dari kata ‘SIAL’

“Buahahahahahahaha…” Ku tatap pekik Kibum yang sedang menertawaiku habis-habisan. Aku berdiri dengan perasaan yang campur aduk, antara malu, kesal.. ahh~ pokoknya sial banget aku hari ini.. “ Silahkan tertawakan aku sepuasnya!” Aku berlalu pergi kea rah laut. Melepas sepatuku dan duduk diantara ribuan butiran-butiran pasir. Kutatap laut dengan lekat, rasanya begitu tenang mendengar hempasan ombak yang bergulir tenang, nyanyian-nyanyian burung yang terbang berpasangan, dan hempasan angin yang seakan menyambut kedatanganku dengan hangat…

“ Kau suka disini?” Eh? Kapan dia datang dan duduk disini?

“Kibum..” sapaku pelan.

“ Kau.. Kau benci padaku?” hah? Apa? Kenapa dia bertanya seperti ini? Memangnya apa urusannya jika aku membencinya atau tidak? “ mm… Tergantung..” aku tersenyum ramah ke hadapannya, “hehe..” Ini pertama kalinya aku melihat senyumannya. Dia begitu tampan jika ia terus tersenyum seperti ini. Andai saja, ia bersikap seperti ini terus, “ Apa/ Kau terpesona lagi  ya padaku? Memangnya aku segitu gantengnya apa?” Cih! Baru saja di puji sebentar! Udah balik lagi sikapnya! “ A-ani.. siapa bilang?” Aku mengelak dan membelakanginya..   “oh? Kenapa barang kita..” Aku mendapati supir itu menurunkan barangku dan Kibum. “ Lalu nasib kita bagaimana kalau dia meninggalkan kita disini?” “Ahjussi!!!!!...” aku berlari menuju sebrang jalan dimana mobil pernikahan kami diparkirkan.. “ ANDWAE!!!!” Kenapa ahjussi itu kejam sekali sih? Jadi maksudnya aku harus tinggal sama namja gila ini sementara waktu gitu? Ya 

Tuhan!  “ Cepat kita cari penginapan sebelum hari mulai gelap.” Ishh~ kenapa sih dia atidak bisa bersikap lembut sedikitttttt saja? Aku ini kan bagaimanapun sudah menjadi isitrinya!

*****

@Hotel

“ Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?..” Sapa salah satu penjaga hotel itu ramah. “Kami ingin memesan kamar untuk…” “ Ahh~ kalian pasti nona Kim So Ah dan tuan Kim Ki Bum, bukan?” pelayan itu membolak-balik buku tamu. Tapi, bagaimana dia bisa tahu? Apakah eomeoni dan abeoji yang memesannya? Tapi dengan cara seperti ini? Meningalkan kami di tengah jalan? “ Iya. Benar..” kata Kibum heran. “ Kalian sudah memesan kamar tadi pagi pukul 09.00 dengan satu ka—“

So Ah's POV

“ apa? Satu kamar?!” sentakku. “ Kami ingin memesan kamar satu lagi.. kamar biasa saja..” aku merogoh dompetku untuk mencari kredit card-ku. “lho? Kredit cardku mana?” aku menumpahkan semua isi dompetku di meja resepsionis.. “ Maaf, mba merepotkan. Tapi kapan kami bisa langsung melihat kamar kami?” Potong Kibum cepat. “ tunggu sebent--.. umummmmm..” Kibum mendekap mulutku dan tersenyum masam pada petugas hotel itu..

*******

Author POV

“Jika kalian memerlukan bantuan kami silahkan hubungi kami lewat telefon dengan menekan nomor lima, saya permisi.. selamat menikmai Bulan Madu kalian .” Pelayan hotel itu membungkuk dan lalu berlalu pergi meninggalkan Kibum dan So Ah.

“Ne.. ghamsa habnida..” Kibum membungkuk kemudian menutup pintu kamar. Menyeret So Ah ke tempat tdur dengan dekapan tangannya yang masih menutupi mulut So Ah.

“Kau.. memangnya kenapa kalau kita tidur sekamar?.. Kan wajar kalau suami-istri tidur dalam satu kamar.. apalagi dalam satu ranjang!” Kibum mendorong So Ah ketempat tidur lalu mendekatkan wajahnya ke wajah So Ah.

“ Kau ini!. Dasar setan mesum!” Itulah hinaan iseng yang keluar dari mulut So Ah.. “ Siapa yang kau sebut setan itu? Dan siapa yang mesum.. karena itu memang seratus persen kenyataan!” Jawab Kibum tajam.

“ Minggir!.. aku mau tidur!” So ah menarik Kibum dan menjatuhkannya ke lantai. “Enak aja! Kamu aja gih sana yang tidur di sofa!” Kibum mengambil remote TV dan lalu menyalakan TVnya. “Wahhh~ ternyata rumahku masih jauh lebih nyaman ya!” “ Ahh!! Baiklah aku yang akan tidur di sofa kali ini!” dengan kesal, So Ah menarik bantal yang di pakai Kibum dan merebut selimutnya. “ Yahh~ bagaimana denganku?” rengek Kibum. “Salah sendiri kau menyuruhku tidur di sofa! Inilah konsekuensinya!” so Ah membalikkan badannya lalu hampir saja membuka baju pengantinnya di depan Kibum.. “ Kau mau mengganti baju di depanku? Aku sih tidak masalah melihatnya!” Ledek Kibum. “ Apa? Yeee~ aku.. Akan mengganti baju di kamar mandi!” alu So Ah mengambil langkah besar dan berlalu ke kamar mandi untuk mengganti baju dan membersihkan dirinya.

*****

So Ah POV

-Di kamar mandi.

Aku menutup pintu kamar mandi rapat-rapat, menguncir rambutku yang tadinya tergerai panjang lurus kebawah, dan menghapus make-up yang masih terlihat jelas di wajahku. Ya tuhan! Apa yang baru saja kulakukan hari ini? Menikahi seseorang yang tidak kucintai sudah cukup sial! Apalagi aku harus tidur sekamar dengan namja itu? Mimpi apa aku kemarin malam sampai kejadian paling sial ini menimpaku dan merenggut masa remajaku yang harusnya kuhabiskan waktu dengan Ina diisi dengan kesenangan! Memang ku akui selama ini aku adalah seorang GADIS yang ceroboh dan tidak pernah lepas dari kejadian-kejadian SIAL di keseharianku. Tapi aku tidak pernah berpikir sejauh ini! Sampai harus menikah segala? Ishh~ sebenarnya apa yang kupikirkan selama menyetujui tawaram Eomma untuk menikah?! “ 

Pabo!..” aku menjitak kepalaku pelan. Lalu kembali menatap cermin dan melihat diriku yang menyedihkan dan bodoh yang sedang menyikat gigi di depan kaca. “ Bahkan saat sedang menyikat gigi pun, aku terlihat bodoh.” Gerutuku pelan.

“ yaa~ cepat! Aku kebelet tahu!!!” Ahh~ namja itu! Tidak bisakah dia menunggu sebentar lagi? Aku sedang sikat gigi tahu!.. “ Sebentar lagi..” Jawabku kesal.
#BRAKKKK

“Aaaa~” Bagaimana dia bisa membuka pintunya?! Seingatku tadi pintunya sudah ku kunci! “ Apa yang sedang kau lakukan?! Kan sudah bilan tunggu sebentar!” kataku sambil menyilangkan kedua tanganku diatas bahuku. “ Aku hanya mencoba-coba membuka pintunya! 

Kukira di kunci ternyata tidak di kunci!” Lihatlah betapa lucunya tingkahnya sekarang? Kibum mengempitkan kakinya untuk menahan buang air kecilnya supaya tidk keluar.. “ Masa sih?.. Ya tapi kan bagaimana pun juga membuka pintu sembarangan dimana yeoja sedang berada di dalamnya kan sungguh tidak sopan!..” ini sebenarnya dia yang salah, apa aku nya yang bodoh sih? “ Sudahlah.. aku lelah harus berdebat denganmu.. izinkan aku pakai kmaar mandinya!” 

Kasihan juga sih kalo dipikir-pikir! “arasseo..” aku mengangguk.

******

Haduh~ kenapa malam-malam begini perutku bisa selapar ini sih? “ Woah~ sepertinya keluar untuk mencari makan malam disini sangat mengasyikkan..” tapi kan aku buta arah! Haruskah aku mengajak Kibum? “ Shireo! Kau cari saja sendiri..” Eyy~ belum saja aku mengajaknya, Dia sudah menolakku duluan. “ ge’er banget sih! Orang aku mau pergi sendiri juga! Tapi jangan harap kau dapat bonus makan malam dariku!” dasar namja jelek, mesum, sombong! “ Eittttt~ a-arasseo.. aku ikut!” nah~ kalo udah urusannya sama makanan aja! Udah ayak kesetanan gitu!

******

“ Jadi kita akan cari makanan kemana? Aku lapar nih..” kata Kibum sambil mengelus-elus perutnya yang sudah keroncongan. “ Tidak tahu! Sudahlah jangan banyak mengeluh seperti anak kecil! Tetaplah berjalan!..” Sebenarnya yang namja itu aku atau dia sih? Masa yang mengaku namja baru berjalan sepuluh menit saja sudah kelelahan? Ckckckckc…  “ Cepatlah!..” aku menarik tangan Kibum yang sedang memegangi lututnya ambil bernafas ter engah-engah. 

“ Kau ini benar-benar perempuan kan?” Aishh~ sebenarnya apa maksunya ini? Mentangmentang aku kuat, jadi dia meragukanku bahwa sebenarnya aku memang seorang perempuan? Memangnya di dunia ini perempuanlah yang selalu lemah? “ Eishh~..” aku mencibirkan bibirku, lalu melepaskan tangan Kibum. “Wuaaa~ ada restoran jajangmyeon di seberang! Ayo cepattttT!” Waaahh~ kalau untuk masalah ini, aku tidak yakin jika aku sial..

“ hhhh.. hhh.. ahjusshiii.. pesan dua porsi jajangmyeon!”

“ne..tunggu sebentar!” Kelihatannya ahjussi ini ramah sekali, selalu menebarkan senyum pada 
setiap pelanggannya. “ Kurasa malam mini kita sedang beruntung..”

“ Kenapa?..” memangnya dia belum tahu? Kalau sebenarnya.. “ Ani.. katanya hanya akan membawa keberuntungan.”

“Ini dia, dua porsi jajangmyeon..” Wuahh~ kelihatannya enak sekali. Kulahap sebanyak mungkin jajangmyeon ke mulutku, Tapi kenapa namja ini tidak memakan makanannya? Kurasa kelihatannya jajangmyeon ini nggak buruk-buruk amat!. Rasanya juga tidak masalah? Apa dia punya alergi? “ Wae? Kau punya alergi? Kenapa tidak dimakan, kalau tidak mau sini buatku saja!..”

“EHHHHH!!.. ini kan sudah menjadi milikku, jadi kau tidak boleh mengambilnya!” Ishhh~ orang itu! Memang seperti anak kecil yang berumur 5 tahun saja!

*****

-Hotel

Ternyata kalo di liht-lihat kita jalan jauh juga ya. Perasaan kita berangkat kira-kira jam 06.30 petang tadi, sekarang sudah jam 09.00?! “ Akhirnya sampai juga!..” aku menjatuhkan ubuhku ke kasur. Rasanya badanku sudah tidak ada energy lagi.. “ Ya~ bangun!” Kibum membangunkanku kasar dengan sejumlah jari-jari kakinya yang panjang itu. “ishh~ memangnya aku ini anjing yang bisa kau perlakukan seperti ini?!” “Makanya kalau kau tidak mau di perlakukan seperti anjing, kau harus bangun dan pindah ke sofa sekarang juga!” dia melemparkan selimut kea rah wajahku. “ sehari ini saja.. bolehkan aku tidur di kasur ya?.. eumm” “ahhh~ baiklah..” Yes! Berhasil! “ ahh~ enaknya tidur di kasur~”

“Tapi ada syaratnya..” eh? Syarat? Memangnya kasur ini seberharga apa sih ? sampe-sampe minta syarat segala.. “ Aku tidur di sebelah sini..” dia menggeser posisiku dan tidur membelakangi posisiku. “yaaa!!! Andwae!!!!!..” aku mencoba mendorong-dorongnya agar dia jatuh ke bawah. Tapi hasilnya? NIHIL! Tidak ada gerakkan yg menunjukkan perlawanan. ‘Sial! 

Dia kuat sekali sih..’ hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati..

*****

“ahhh~” begitu bangun dari tidurku,  aku dikagetkan dengan sosok Kibum yang terkapar tidur di sebelahku dengan telanjang.

-TBC-

2 comments:

  1. ceritanya bagus ^^b
    tapi kalo boleh comment
    masih ada kata-kata yang salah ^^
    terus dialognya ngga begitu jelas
    but semua nya keren ko like it ^^b



    ~zae~

    ReplyDelete
  2. @Zae: makasi.. iya tuh di mikrosof office word suka kyk gitu, aku mo bilang bisa jadi BIAS

    ReplyDelete