Pages

Wednesday, November 30, 2011

Accidently Married Couple






Cast:
-          Kim So Ah
-          Kim Ki Bum
-          Yoo In A.
-          Kevin Woo
- Another U-Kiss member.

-------------
Berjalanjalan dengan sahabat dekatku, Ina benar-benar solusi yang paling tepat untuk melihat-lihat Fashion Update di pusat perbelanjaan.Ya, kami berdua adalah dua orang sahabat Fashionista, kami mencintai segala hal yang berbau Fashion.
“So Ah... sini… aku menemukan baju yang kukira cocok untukmu..” aku percaya, Jika Ina bilang bagus atau cocok, pasti benar-benar bagus atau cocok. “tada! Cocokkan?” Bagus, kan?! Hehe.. berhubung sebentar lagi adalah ulan tahunmu, baju ini aku yang beliin buat kamu ya?” Tanya Ina sambil mencoba-coba baju yang ia pilihkan buatku. “Saengil Cheukkhaeyo..” lanjutnya. Ina bertepuk tangan kecil sambil tersenyum padaku.Air mataku nyaris turun, menyadari Betapa Baik dan perhatiannya Ina padaku, tapi aku sungguh tidak ingin menangis di depannya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku cepat dan mengdenga’kan kepalaku keatas, mencegah bulir-bulir air mata yang akan turun.
“Gomawo.. Ku memang sahabatku yang baik, dan akan selalu jadi yang terbaik” dengan cepat aku memeluknya erat. “Cheonma.. kau juga sahabatku yang baik dan akan selalu menjadi yang terbaik..” dia membalas pelukanku.
Hari ini memang benar-benar hari terbaikku sejak kami #Aku&Ina  SMA. Biasanya , keseharianku hanya di penuhi dengan omelan-omelan Seosangnim karena terlambat dating ke sekolah dan juga tugas-tugas ekstra super banyak sebagai hukumannya. Belum lagi jika ada Tes mendadak dan kenyataanya aku belum balajar?! Ahh~ hidupki ini memang menyedihkan, tapi setidaknya TIDAK untuk hari ini. “Permisi Mbak. Saya mau ambil yang ini nomor 8” Jelasku pada salah satu staff toko yang sedang menjaga lusinan-lusinan baju di depannya.

Kibum’s POV
Aku berkeliling-keliling toko untuk mencari salah satu staff dengan tujuan untuk menanyakan ukuran Baju yang ingin kubeli ini.
“Permisi Mbak. Saya mencari baju ini dengan ukuran nomor 8, apa masih ada? Atau tersedia?” Kebetulan ada mbak-mbak yang sedng berjalan menuju meja kasir. Jadi numpang Tanya, deh..
“Ukuran delapannya hanya tinggal satu, Mas. Dan sudah di pesan duluan sama Mbak yang disebelah sana..” Kata Staff toko itu sambil menunjuk kearah dua orang gadis yang sedang asyik mengobrol. Kelihatannya mereka berdua sedang menunggu baju ini. Aku hanya diam dan berpikir sejenak, “Permisi tuan..” Petugas itu permisi untuk berlalu pergi, lalu kemudian..  “anio jamkanmanyo..” aku menghentikan langkah staff toko itu dan merebut baju itu dari tangannya. “Saya akan membeli baju ini”
“Tapi..”
“ Saya berani membayar dua kali lipat untuk baju ini..” Tegasku mentap.Staff itu tampak berpikir sejenal, tapi akhirnya memberikan baju itu padaku.
Setelah baju yang kubali itu di bayar dan dibungkus dengan rapi dengan kantung tas berlogo lambang toko itu, aku memilih berlalu pergi agar tidak telat untuk pertemuanku dengan Noona-ku hari ini.
“Maaf, Permisi. Baju Mini-Dress berwarna hitam yang saya pesan tadi sudah di dungkus?” Aku menoleh kecil kebelakang dan mndapati dua gadis yang kudengar sedang menanyakan tentang baju yang akhirnya kubeli ini. “Maaf Mbak.. Sudah I beli dengan ma situ.
So Ah POV
Pandanganku mengikuti arah telunjuk Staff toko itu tertuju.Kudapati seorang namja berrtubuh tegap yang sedang bejalan memakai pakaian jas hitam dan celana santai yang modis. Style-nya oke sih…  Tapi kan aku sudah ingin memesan duluan.. Aishhh~ toko macam apa ini?! Sungguh tidak professional.
“Jeongmal Jeoseong Habnida..” aku menepuk pundak namja kurus-tinggi dan berkaca mata itu. Dari lagat-lagatnya sih. Kayaknya dia orang kaya, dan juga sombong tentunya. “Aku sudah memesannya duluan” Sudah kutahan semua rasa kesalku di dalam hati untuk sementara ini, selama dia belum dan tidak bermacam-macam padaku. Kuambil jutek kantong yang terbungkus rapi yang berisi baju itu. “ Tapi aku membayarnya duluan, Nona..” Dia melepaskan kacamata hitamnya dan mendekatkan wajahnya padaku. Wahh~ kalau dilihat-lihat dia ganteng juga, ya?
Tidaak, tidak, tidak! Apa yang kupikirkan?! Kim So Ah?! Kau Gila?! Ganteng?! Dimana harga dirimu, kau telah di remehkan oleh namja ini dan sekarang kau bilang GANTENG?! Mau di taruh dimana mukamu ini Kim So Ah Pabo!!!
Lagian, apa gunanya berwajah tampan, tapi perilakunya tidak jauh brbeda dengan anak umur 5 tahun yang baru masuk TK. Bahkan mungkin anak TK lebih sopan santun…
“Permisi..” Namja itu merebut kantong atau tepatnya bungkusan itu kembali dengan sikap Seeeeeee KASAR- KASARnya! Yahhh~ tapi apa yang harus ku perbuat?! Dia sudah nekat membayarnya. Dan satu catatan lagi ‘Hari ini aku sungguh tidak jauh SIAL dari hari-hariku sebelumnya’.

***
Kibum’s POV
Aku berjalan santai menuju mobil, membuka kuncinya dengan kunci otomatis jarak jauh, menaruh bungkusan/ kantong brisi baju itu di kursi penumpang tepat di sebelahku. Rencananya hari ini aku akan member hadiah special untuk Noona di sebuah restoran mahal yang tidak jauh dari sini.
Wahh~ kalau dia tahu aku seorang Kim Ki Bum namja tampan impian para gadis memberinya hadiah PLUS makan siang. Pasti dia akan bangga padaku.. Aku memang seorang dongsaeng yang baik dan berbakti.
***
“Saya sudah Booking ruangan dan meja makan lewat telephone setengah jam yang lalu…” Aku membuka kaca mata hitamku.  Pelayan itu Nampak membolak-balik santai kertas berisi dokumen tamu/ pemesanan. “Tuan.Kim Ki Bum… Meja Suit nomor 303” Jelasku lebih lengkap lagi.
“Mari sebelah sini..Tuan” Pelayan itu menuntunku ke tempat meja yang kupesan. Aku mengikuti pelayan itu, berjalan santai sambil mengelap lena kedua kata mata hitamku dengan ujung jasku.
“Silahkan..” Pelayan iu membukakan pintu ruangan yang sebelumnya terkunci.
Wahh~ Benar-benar elegan dtapi sederhana! Aku tidak pernah salah pilih kalau soal ini. Aku menarik satu bangku di sisi kiri meja serta mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
“Anda ingin pesan Wine atau makanan..”
“Tidak usah.. saya sedang menunggu orang” potongku cepat. Lalu pelayan itu membungkukkan badan tanda hormat dan berlalu pergi.
5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit….
Haduh~ Noona mana sih? Sudah tahu aku paling tidak suka menunggu orang. Ini dia kebiasaan jelek Kakakku, Jung Hee yang paling ku benci, yaitu ‘SELALU MEMBUATKU MENUNGGU’
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sambilsesekai melihat Arlojiku yang melingkar di pergelangan kiri tanganku berharap Jung Hee Noona datang.
“Kibum..” Akhirnya Noona dating juga! Dia melambaikan tangannya sekali dan berjalan mengahampiriku. Tapi aku sadar.. ada sesuatu yang janggal di Noona. Aku memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga atas kepala, sebelum ahirnya dia duduk berhadapan denganku. Ya Tuhan! Aku baru sadar.. bahwa Mini-Dress hitam yang noona kenakan sekarang itu sama dengan yang kubelikan tadi untuk hadiah ulang tahunnya. Aku hanya sibuk berpikir tidak tahu berbuat apa. Oh Ya, Aku Kim Ki Bum pewaris tunggal perusahaan Sangha dari keluarga Kim, dan aku memiliki satu kakak perempuan bernama Kim Jung Hee (orang yang edang kutunggu sekarang) umurku 19 tahun, kuliah di Seoul International University. Aku akan dinyatakan sebagai pewaris SAH dari perusahaan Sangha jika sudah tamat kuliah nanti.
“Kenapa? Kau tidak senang Noona datang? Atau kau marah karena Noona membuatmu menungg, Bum?” Tanya noona santai. Aishh~ mati aku! Gimana nih…
“Tidak…. Bukan apa-apa… hanya saja.. kau cantik hari ini Noona..” Ini kenyataan lho! kalau noona hari ini cantik, tapi aku menyangkal kenyataan dan tidak mau menanggung malu jika tahu baju yang kubelikan untuk hadian ulang tahunnya ternyata sama dengan miliknya yang ia kenakan sekarang..
“Gomawo..” Noona tersenyum tipis.’dan ungkusan itu, itu hadiah buat Noona kan?” Noona menangkap adanya bungkusan berisi baju itu di sampingku, dengan cepat aku menyambar bungkusan itu dan memangkunya di pahaku. “Ye~ Noona Ge’er banget sih! Ini …” Haduh! Alasan apa lagi ya, yang harus ku gunakan? “Untuk yeojachingumu ya?” Tanya Noona dengan senyum jahil seperti biasanya, “I-Iya.. Heheh” Bagus deh ada kata-kata yeojachingu, jadi gak perlu di perpanjang masalahnya. Tapi tetap saja aku malu dan salah tingkah..
***
So Ah’s POV
Semua itu gara-gara namja GILA + Menyebalkan itu! Aku jadi gagal mendapatkan baju itu! HUAAAA~ padahal baju itu bagus banget! Dan.. tinggal satu pula nomor 8-nya! Coba aja kalo dia gak beli.. ani ani ani.. ngerampas dariku tepatnya!
“Aissshh~ Dasar namja pabo” Aku meronta-ronta  tidak karuan sendiri di kamar, merenungi nasib-ku dan calon bajuku(?) barusan. “ Masih gak bisa relain baju itu?” Ina masuk ke kamarku dengan membawa sepotong cheese cake blueberry dan air mineral hangat
#NYAAAAMMMMMM…
“em’m..” aku mengangguk lesu. “ sudahlah.. yang lalu sudahlah berlalu, jangan di inget-inget lagi.. yang ada malah jadi beban nantinya” Ina duduk di sampingku mencoba menghibur diriku. Beruntung ada sosok Ina disampingku sebagai pengganti Eomma dan sekaligus jadi Sahabat yang seru. Hebat ya? Kayak Super Girl!
Di hari sekolah aku tinggal di kos-kosan mahasiswa sekamar bareng Ina, kalo hari libur ada waktu kosong, pasti kami bakalan balik ke rumah masing-masing untuk bertemu orang tua dan keluarga. “Oh Ya.. kamu kapan pulang, So?” sambil menyuapkan sesendok kecil cheese cake rasa blueberry ke mulutnya. “ Sebentar lagi..” jawabku lesu. “Ihh~ sini, sini! Jangan lesu gitu donk! Mana so ah-ku yang ceria?!” Ina meletakkan kepalaku ke bahunya. Rasanya sama persis seperti bahu Eomma, hangat dan nyaman. Ahh~ satu hal lagi yang kusadari. Aku memiliki Ina sebagai sahabat karib terbaik dan seorang sosok pengganti Eomma. Belum tentu orang lain mempunyai sahabat BAIKKKK seperti Ina. Ternyata hidupku nggak sial-sial amat karena adanya sosok Ina. Semua ini berkat Ina and Thanks To Ina.
“Gomawo…” gumamku pelan. “Untuk?” Ina menjawabku lekat. “Semuanya..” jawabku tanpa memandang kearahnya. “em..”
Suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar suara hiruk-pikuk lalu lintas dari luar jendela. “mm… Kamu gak mau pulang?”Tanya Ina sambil membenarkan posisi duduknya. Mada! Mengingat itu, Aku harus pulang! Aku sudah ingin bertemu Minwoo, Eomma dan Appa. “Tentu saja aku mau” aku menyingkirkan kepalaku dari bahu Ina “Kapan kamu mau pulang?” Tanyanya sekali lagi. “nanti jam 03.00” jawabku santai. Ina melihat waktu lewat arloji merah yang melingkar di pergelangan tangannya. “celaka! Sudah jam setengah tiga” Ina terjolak kaget dan beranjak dari kasur.
“Mworago?! Setengah Tiga?! Aaaa~ aku harus cepat-cepat!” aku juga tidak kalah kaget.. tanganku menyambar tas koper berwarna pink milikku dan memasuk- masukkan baju seccepat kilat, tidak peduli baju apa yang kumasukkan dan betapa acak-acakkannya baju-baju itu. Mengganti baju dan menggosok gigi. Lalu beranjak kea rah pintu untuk berangkat. “Ina.. kamu jaga diri ya… Aku pergi dulu” Memasangka sepatu apa adanya lalu berlalu pergi. “Hati-hati ya!..” ina melambai dari kejauhan, sekilas kubalas lambaiannya dan kembali berlari melanjutkan langkahku.
***
“Eomma! Appa! Minwoo!.. aku pulang!” setelah membuka pintu, saking tergesa-gesanya aku hampir saja terpeleset. “Oh? Kenapa sepi banget? Pada kemana mereka?” aku mengedarakan pandanganku ke seluruh sudut ruang tengah tepat di depan mataku. Tapi, mataku tidak mendapatkan adanya tanda-tanda kehidupan di rumah ini sekarang.. (*gak ada orang maksudnya) “Minwoo.. Noona pulang?” Aneh, biasanya kalo aku sudah di rumah Minwoo tidak akan melepaskan pelukannya dari tubuhku. Tapi sekarang? Boro-boro pelukan!
Aku memutuskan untuk langsung naik ke kamarku di lantai dua. Dengan susah payah, aku menggeret koperku melalui tangga utama di sebelah kiri ruang tamu. “aduh sial banget ya aku!” aku menggerutu pelan.
Aku memegang gagang pintu kamarku perlahan, kemudian…
“ Cheukkhae!!! Noona” Min Woo memelukku erat. Oh ternyata disini mereka.. Eomma, appa, dan Min Woo berkumpul untuk menyamut kepulanganku rupanya~ xixixi,… senangnya!
Tapi tunggu! ‘Cheukkhae’? cheukkhae untuk hari ulang tahunku? Tapi kan ulang tahunku masih 2 bulan lagi?? “ Cheukkhae?.. Gomawo. Tapi kan ulang tahunku masih 2 bulan lagi..”
“Siapa bilang untuk ulang tahunmu, So..” Appa datang memelukku hangat. Tapi ada apa dengan mereka? “ Sini saying..” Eomma menuntunku untuk bicara duduk di pinggir tempat tidur. “So Ah.. maafkan eomma dan appa ya..” eomma mengelus rambutku, air matanya sudah tergenang di kelopak matanya. Lho? Emangnya mereka salah apa sama aku sampe minta maaf segala? Benar-benar mencurigakan..
“ kamu akan menikah 2 minggu lagi,” Kata Appa pasrah.
“MWO?! Menikah?! Dengan siapa?! Eomma.. Appa.. aku ini masih 18 tahun. Aku masih ingin menikmati masa SMA-ku yang berharga sama Ina, eomma.. eung? Lagian aku mau nikah sama siapa?” Aku protes berteriak-teriak tidak terima. Jelas aja aku nggak terima. Pulang ke rumah langsung di suapin kata-kata ‘MENIKAH’ ya tuhan.. sebenarnya apa yang telah terjadi sama hidupku sih? “’Tenang dulu sayang.. biar eomma jelaskan. Kami sudah terlalu banyak berhutang budi pada Pak Kim karena telah banyak membantu kami menjalankan bisnis kami sampai sejauh ini, dan eomma dan appa tidak tahu harus membalas mereka dengan cara apa dan bagaimana, dan salah satunya jalan adalah hanya menjodohkan putra/i kami…” Kata eomma lirih. Bagaimana ya? Aku tidak mau menjadi anak pembangkang dan tidak berbakti dengan oran tua!.. ya sudahlah.. ini demi eomma dan appa.. kalau tidak! Aku sudah menolak mentah-mentah dari awal.. “tapi kalau kamu gak mau.. ya udah nanti eomma dan appa akan coba bicara lagi sama Pak Kim..”
“Nggak usah.. aku mau kok.” Senyum tulus tertera di wajahku.
“Jangan di paksa’in kalo—“ “Nggak kok Ma, aku mau!” jelasku mantap.
“Gomawo sayang..” Eomma memelukku hangat.
***
Kibum’s POV
“Yah~ kalo tau kayak gini mah..tadi ku biarin aja kali ya cewek itu yang beli baju ini. Rugi amat aku udah beli baju mahal-mahal tapi akhirnya gak dikasihin juga! Aishhh~”  Aku menggerutu pelan, pandanganku tidak terlepas dari jalanan kosong yang panjang, tanganku kukepalkan bersiap untuk memukul stir mobil sekeras kerasnya.
*****
“Kau sudah pulang?”
“mm..” aku tidak memperdulikan sapaan kakak iparku dan berlalu lesu ke kamarku.
@dikamar
Aku membanting pelan bungkusan berisi baju mini-dress itu ke kasur. Menatap bungkusan itu sambil mengingat-ingat kejadian di pusat perbelanjaan tadi dengan gadis itu. Tersadar, sebuah senyum tipis terpasang di wajahku, bukannya aku menyukai gadis itu! Tapi aku tertawa akibat bagaimana cara kami memperebutkan baju ini.
“Gadis bodoh..”
Hufffttt~ aku menghela nafas berat, mengendurkan dasiku yang cukup ketat,dan menghempaskan tubuhku ke atas kasur kesayanganku yang nyaman.  
“Kibum!! Bum!!.. waktunya makan malam..” Jae Hyo Hyung, suami dari Jung Hee noona. Mengetuk pintu kamarku keras. “Kau ngapain sih ngurung diri di kamar seharian?”  tanyanya.
“Aishhh~ hyung mengganggu saja..” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Hah~ dari pada dia ngomel-ngomel gak jelas nanti! Mendingan kebawah aja deh…
“Iya-iya..” teriakku pelan.
  Aku berlari turun tangga dengan secepat kilat, makan juga secepat kilat…
****
“Bum pelan-pelan makannya!.. Noona menghalangi sumpit berisi nasi dan lauk masuk ke mulutku.. “Noona mau ngomong sama kamu..” Ada apa nih? Kok tumben-tumbenan tampang noona serius banget kayak sekarang?.. apa beneran ada hal penting yang mau di bicarakan sama aku? “Cihh.. Noona serius amat..” hhe.. aku tersenyum jahil.
Jung Hee noona menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. “Eh?.. ada apaan sih?” dimana nih? Hah ruang rias? Emangnya aku mau di dandanin? “ Bum. Leih baik kamu siap-siap buat pernikahan kamu deh..”
#GLEK…
Waduh? Nikah?. Sama siapa?.. aku kan masih 19 tahun!!
“Mwo?! Shileo!.. Aku kan masih mau seneng-seneng sama temen-temen. Aku juga masih pengen kuliah Noona! Gak mau ah!” aku membalikkan badanku membelakangi Noona. “Bum.. tolonglah.. Eomma dan Appa sudah mengikat janji sejak kita masih kecil. Memang kmau piker Noona menikah sama Jae Hyo karena noona cinra pada awalnya?” Mwo?! Apa maksud perkataan Noona barusan?.. Jadi semua ini karena..
“Noona menikah dengan Jae Hyo karena Jae Hyo adalah anak dari teman Appa. Lebih tepatnya anak partner Appa di perusahaan… Noona memang tidak rela pada awalnya, tapi Noona mencoba ikhlas menerima semua ini dan mulai mencintainya. Sampai sekarang” Aku membalikkan tubuhku bertatapan dengan Noona.
“Jadi…” Tanya Noona lekat.
“Baiklah.. aku mau.. api ku yakin aku tidak akan menyesal jika menikah dengan yeoja misterius itu? Dia Cantik tidak?” Aku tahu aku keterlaluan untuk bercanda di saat-saat seperti ini, tapi kan ini penting untuk tahu dia cantik atau tidak.. dia itu kan calon istriku.
“Eiiii~ Kau ini! Yasudah.. ayo makan lagi sebelum makanannya dingin!” Noona kembali menyeret tanganku menuju meja makan.
******
So Ah POV
-2 hari kemudian..
@Seoul High School
“what?! Menikah?! So Ah, orang tuamu pasti sudah kehilangan akal sehat ya?” Dengan cepat aku mendekap mulut Ina yang sudah hampir tak terkendali. Aku tersenyum paksa sambil mengedarkan pandangan keseluruh kantin. ‘Pelan-pelan, ina. Nanti kalau ada yang tahu bagaimana?!” Semua orang pasti ada PLUS, MINUS-nya lah. sampai Ina yang tadinya dewasa bisa berubah kaget dan bertingkah seperti remaja pada umumnya seperti ini (?).
“Tapi… Sepertinya orang tuaku benar-benar kelewat batas ya..” Kataku sambil menngaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.” Ina hanya mengangguk tercengang. “Sudahlah. Aku mau mengambil roti dulu.. mendingan aku siap-siap makan buat nguatin mentalku menghadapi calon suami misterius itu..” aku berjalan santai ke Stand dimana seorang ahjumma penjual roti langgananku. “Ahjumma…” Sapaku ramah. “Tolong berikan aku roti kacang tanah satu ya..” Aku menunjuk-kearah roti kacang tanah yang terletak di lemari kaca. “Wahh~ sudah tinggal satu” Kata ahjumma itu. “Gamsa ha—“ Seorang namja tiba-tiba merebut roti itu dari tangan ahjumma yang akan memberikannya padaku. “Yaa! Itu punyaku!” aku menghadang langkahnya. Dan ternyata namja itu..
“Kau?!” pekikku setengah teriak.
‘Kau?!” Pekik namja itu pelan…
“Kemarin kau mengambil bajuku, sekarang kau mau merampas rotiku pula, huh?” aku berkacak pinggang menghadapinya. Dasar namja belagu! Emangnya apa yang lucu? Dia menertawakan aku?! Cihhh.. orang aneh.
“memangnya apa yang lucu?! Cepat kembalikan!” aku mencoba merebut bungkusan kertas yang berisi roti itu dari tangannya, tapi dia malah mengangkat tangannya keatas. Mana mungkin aku bisa mengambilnya?! Dia kan tinggi, dan aku mengakui aku memang jau lebih pendek jika di bandingkan dengan tingginya yang hampir menjangkau 180 cm.
“Ambil..” Cela namja itu santai. Ada dua pilihan, pertama: aku bias empermalukan diriku, atau yang kedua: menyerah dan menyerahkan roti itu pada namja sialan itu!.. “lupakan saja! Makanlah hinga kenyang! Selamat makan!” dengan cetus, aku pergi berlalu dengan lankah cepat, meninggalkan Ina yang juga menyusulku dan memanggil-manggilku di belakang!.
“Yaa! Kim So Ah..” Teriak Ina lumayan keras.
****
-di kelas.
Aku hanya mengepalkan tanganku dan mengingat-ingat kejadian tadi. Namja itu selalu saja membalikkan mood-ku! “Aiiishhhhh~!!!!” Seluruh anak-anak dan Seosangnim memperhatikan tingkahku. Aku hanya bias tersenyum masam dan menundukkan kepala meminta maaf.
#DRRTTTTT..DRRRTTTT..
Ponselku bergetar di saat pelajaran, suasana di kelas sangat sepi, jadi bunyi ponselku pasti terdengar sangat jelas. “Jeoseong habnida..”aku berlari keluar kelas untuk mengangkt telfon.
‘ Incoming Call
                        Eomma’
Telfon dari Eomma, pasti penting..
“ Yoboseyo.. Eomma… ada apa? Aku sedang dalam pelajaran nih..”
“ Sayang. Hari ini kamu pulang ke sini saja ya” (*rumah orang tuanya)
“Tapi.. memangnya ada apa?” Tanyaku bingung.
“Ada pertemuan antar keluarga anatara keluarga kita dengan keluarga Kim sajangnim.. jadi eomma akan mendandanimu secantinkkk mungkin hari ini.. Jadi cepatlah pulang ya, nak!”
#Klik..
“Tapi… Yoboseyo? Eomma? Aishh~ dimatikan!” Aku menggerutu kesal.
****
#KRRIIIIINNGGG..
Bel berbunyi, tanda waktu sekolah sudah usai. Aku berlari ke luar kelas. Mecari sepedaku yang kuparkirkan di tempat parkiran sepeda. Tapi disini banyak sekali sepeda yang berjejer, pasti akan memakan waktu untukku mencaari sepeda kesayanganku.
   To : Yoo In A
Ina, hari ini aku pulang ke rumah orang tuaku.. mungkin kalau aku sempat, nanti malam aku akan balik lagi ke apartemen kita..
Bye Bye,..       So Ah .
“Ahhh! Disini kau rupanya!” dengan cepat aku membuka rantai pengunci sepedaku yang kulilitkan di ban depan dan segera berlalu menuju rumah..
****

“aku pulang!..” belum sempat aku membuka sepatuku, Min Woo sudah menarik tanganku dan menyeretku ke kamar Eomma.
“wow!!” berbagai macam jenis make-up tertera di atas meja rias kamar Eomma. “Aku tidak tahu make up eomma sebanyak ini” mataku tidak teralihkan dari semua make-up beraneka ragam macam dan warna di depanku.
“Sudah! Kita tidak punya waktu untuk melihat-lihat. Sekarang tugasmu hanya tinggal duduk manis disini.” Eomma menekan bahuku dan memaksaku untuk duduk di kursi rias.
30 menit kemudian..
“Sudah selesai…”
Omo~ ini beneran aku? Aku masih gak percaya kalo ini aku! Penampilanku yang tadi sama yang sekarang bagaikan gunung dan lembah! Sungguh jauh berbeda.  “Sekarang coba pilih baju yang sudah eomma dan Min Woo pilinhkan..” tambah eomma.
“Wow! Ternyata eomma dan appa memang benar-benar memantapkan niat untk menjohkanku, ya?” Kulihat Long-Dress dan Mini-dress yang terjajar rapi di gantungan baju..
“Coba pakai yang ini..” Min Woo mengambilkan baju long dress berwarna Navy dan  mendorongku ke ruang ganti.
Baju 1:
“Tidak cocok..”
Baju 2:
“ Terlalu panjang.”
Baju 3:
“ Terlalu pendek..”
Baju 4;
“ Kurang catchy..”
Baju 5:
Kuharap ini baju yang terakhir yang akan ku coba. Karena aku benar-benar sudah lelah..
“Perfect..” WuhhhH~ syuurlah…
****
“Selamat datang..” Aku member hormat pada Nyonya Kim dan tuan Kim yang telah datang. Menyuguhkan makanan kecil dan member the hangat.
“ Dimana putra kalian, Ki bum?” Tanya eomma bertanya pada nyonya Kim. Marga keluarga kami ternyata memang sama. ‘mudah-mudahan wajahnya tampan..’ harapku dalam hati. “Oh.. katanya dia ada urusan jadi harus datang terlambat. Tapi tenang saja, dia pasti datang..” Kata Nyonya Kim sambil menletakkan kembali secangkir the hangat yang di genggamnya.
Kibum’s POV:
Aku telah sampai di depan pintu erbang rumah dari keluarga Kim. Nama belakang mereka memang sama dengan marga keluargaku. Untuk menjaga penampilanku agar tidak berantakan, aku mengacake jendela transparan untuk merapikan jas, dasi dan tataan rambutku, lalu barulah aku memencet bel rumah itu.
“Ya sebentar..” terdengar suara sahutan dari dalam..

Author’s POV:
“ Eomma biar aku saja yang membukanya.. Permisi” So Ah memutuskan untuk membuka pintu, ia sudah hampir mati penasaran karena penasaran ‘seperti apakah sosok wajah dari suaminya itu’ dan ternyata..
“Selam—“ “Kau?”
“Kau?”


-TBC-

No comments:

Post a Comment