Pages

Friday, December 30, 2011

Accidently Married Couple (Part 4)

Accidently Married Couple Part 4





Main Cast:
- Kim So Ah
- Kim Kibum
- Kevin Woo
- Yoo Ina

Author's note:
heheh.. maaf banget ya memberdeul part ini pendek habis ada satu reader yang udah gak sabaran.. moga suka ya^^ enjoy
INI 100% bikinanku..

-author pov-

------------

“aku pula—Omo!!!” kuelus pelan dadaku. Mengagetkanku saja dia! “Kau ini.. apa-apaan kau? Mengagetkanku saja! Wajahmu itu lhooo.. seram sekali! Kenapa menatapku seperti itu?”

------------

“Kau.. senang?” Tanya Kibum enggan. “Senang bagaimana maksudmu?” Tanya o Ah yang masih kebingungan dengan lagat-lagat Kibum sekarang ini. “ bersama Kevin..” ucap Kibum kembali enggan. “ Oh? Kau sudah tahu rupanya? Iya! SANGAT! Kevin Oppa tidak banyak ber—“

“Aku cemburu dasar bodoh!” Kibum sedikit mengeraskan suaranya. Menggenggam tangannya kuat-kuat. “Kau.. cemburu?..” Tanya So Ah terbata-bata. Dia juga masih syok dan tidak mempercayai semua ini. “

 Benar! Jelas aku ini masih berstatus sebagai suamimu, dan coba kau piker.. suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya bersama dengan pria lain, dan terlihat jelas bahwa lelaki yang di temui istrimu itu menyimpan perasaan lebih dari sekedar ‘teman/sahabat’ pada istrinya?!” So Ah hanya bisa terus mundur dan menjauh dari pandangan Kibum dan cerocosannya yang semakin lama, semakin dekat. Dan akhirnya.. Kibum melumat bibir So Ah yang semakin lama semakin dalam dalam ciumannya. 

Ciuman ini memang sedikit agak di paksakan, karena Kibum juga masih bingung terhadap perasaanya sendiri..

Mereka berdua semakin hanyut dalam menikmati momen mesra mereka sekarang. Sampai Ina datang dan menyambut kepulangan So Ah, “ So Ah-ya.. ka—“ Sambutan pulang Ina terhenti, dikejutkan oleh momen yang ia—Ina—lihat sekarang ini. setelah berciuman kurang lebih hampir satu menit, Kibum dan So Ah tersadar dan kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa. 

Hanya saja, dengan perasaan yang ‘sedikit’ canggung.

------------

Waktu makan malam pun tiba, dan tiba pula saatnya untuk mereka makan di ruang makan.

“….”

“….” Kibum dan Soah masih terlihat canggung, tidak ada salah satu pun dari mereka yang mengeluarkan satu patah katapun untuk membuka percakapan. “Ya! Kalian ini kenapa memang?.. sebegitu anehnya kah kalau suami istri melakukan adegan itu? Lagi pula itu hanya sebatas ciuman…. Atau jangan-jangan lebih buruk kalian belum pernah melakukan..” keduanya hanya menggeleng pasrah.

“Aishhh~ baru kali ini aku melihat pasangan suami-istri yang secanggung kalian dalam kehidupan asli.. “ “hanya dalam drama saja melihat suami-istri se-canggung ini. dan mungkin ke canggungan kalian lebih buruk dari pada yang di drama-drama itu..” Lanjutnya. Tetap tidaka da respon asktif dari mereka berdua, yang terdengar hanya suara helaan nafas berat dan 
‘KECANGGUNGAN’ tentunya. 

“…. Jadi… kalian belum akan memberikanku keponakan?..” Mau tahu apa jawaban dari pertanyaan Ina barusan? Yap! Jawabannya adalah dua bantal duduk terbang yang mendarat tepat di wajahnya—Ina--. “YAAAKKK!!! Appoooooooo..” Ina mengelus-elus dahinya pelan. 

“Salahmu sendiri berbicara seperti itu! Lagian bagaimana kami akan memberikanmu keponakan kalau kau saja menjalani perni hmphhhhhh.” Dengan segera Kibum menyumpalkan setumpuk tteokbokki ke dalam mulu So Ah, lalu tersenyum miris kea rah Ina.

“Pernikahan kami belum juga menginjak 1 bulan..” Timpal Kibum cepat.

-----------

@So Ah’s bedroom.

“YAKKK!!! Kau ini ingin membunuh kita ya?! Bagaimana kau bisa hampir mengatakan itu?!” Kibum mendekap mulut So Ah dan membawanya ke dalam kamar. Memang ucapannya kali ini berbisik.

 “Aku kan hampir keceplosan…” “Aishh~ sudahlah! Memang tidak bisa di pungkiri bahwa kau itu memang benar-benar POLOS nya keterlaluan.. saking polosnya itu sampai membuat otakmu menjadi bodoh seperti itu.” Kata Kibum sambil menunjuk-nunjuk dahi So Ah dengan satu jari telunjuknya. 

“Aisshhh~ baiklah kalau aku bodoh! Dari pada kamu, setan mesum, namja gila!!!!!!!” tak mau kalah, So Ah juga kembali setengah berteriak. “Aishh~ sudahlah.. aku lelah jika harus berdebat denganmu sekarang! Aku mau tidur! Minggir sana!” So Ah memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur itu tapi..

 “Aku bilang kau untuk minggir, bukan berarti aku menyuruhmu pergi” Ya. Tangan Kibum menghentikan langkahnya. Tak lupa dengan senyuman jahilnya itu sembari menaikan sebelah alisnya. Kemudian menarik So Ah untuk tidur di sebelahnya, dalam dekapannya lebih tepatnya. 

“ Kau ini apa-apaan?” Tanya So Ah pelan. “ Jangan bergerak, tetaplah seperti ini..”

-author pov end-

-so ah pov-

“Jangan bergerak, tetaplah seperti ini.” Aneh, tapi kenapa hatiku tidak merasa risih, dan juga enggan untuk menyingkirkan pelukkannya dari tubuhku. Apa.. aku sudah jauh cinta padanya? Pelukannya kali ini, begitu hangat, dan.. err.. nyaman? “Aku sama sekali tidak membencimu.” Apa? Dia bilang apa? Untuk apa dia berkata seperti itu? “ku tegaskan sekali lagi, bahwa ‘AKU 
TIDAK MEMBENCIMU’” di kalimat terakhirnya, dia sedikit menekan nada bicaranya.

DEG DEG DEG.. jantungku berdetak kencang 10 kali lebih cepat dari bisasanya. Kurasakan pula getaran-getaran listrik yang menjulur sampai ke lubuk hatiku. “Kau, apakah kau membenciku?” tanyanya sekali lagi padaku. “Memangnya kenapa?” Aishh~ bagaimana bisa aku melontarkan pertanyaan bodoh seperti itu? “Aku mencintaimu…” sebuah kecupan hangat mendarat di puncak keningku. 

“Aku juga…” jawabku.

-----------

“Good morning.. Bagaimana tidur kalian semalam?” berbagai macam makanan telah tersedia di meja, Ina juga sudah memakai seragam sekolahnya dengan rapi. Sedangkan aku? Aku masih dengan kostum piyama malamku, dan rambutku yang masih setengah acak-acakkan. 

“Ya! Kenapa kau belum siap?! Mau mati dibunuh sama tugas yang diberikan Choi seosangnim kalau kita telat lagi?” Aishh~ kenapa dia—Ina—pake ngomel-ngomel segala sih? Kepalaku malah tambah jadi belibet nih!!! “Bisakah kau diam? Aku benar-benar sedang pusing sekarang?!

” Ina menatapku keheranan. “ Perasaan dari kemarin kau baik-baik saja. Bukankah seharusnya kalian senang, karena kalau semakin lama semakin ku perhatikan, hubungan kalian semakin membaik..”

-end so ah pov-

-author pov-

Datang Kibum yang masih melingkarkan handuknya di lehernya. “ Kau.. sudah siap?” So Ah hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “Ha? Iya.. sudah.. tapi kenapa kau masih memakai piyamamu? Mau di marahi seosangnim?” “baiklah.. baiklah aku akan mandi 
sekarang..”

**********

“Ya! Kim So Ah! Ada apa sebenarnya denganmu!?” Ina menghampiri sahabatnya, So Ah yang masih dalam lamunannya. “Aku mengantuk sekali..”  sedari tadi ia—So Ah—hanya menghabiskan waktu luangnya untuk menenggelamkan kepalanya di bawah mejanya. 

Sebenarnya ia sangat mengantuk akibat kemarin malam begadang untuk menyelesaikan tugas yang Park seosangnim berikan. “Kenapa bisa sampai kau sengantuk itu? Memang tadi malam kau tidur jam berapa?”

“jam dua pagi..” memang tidak kedengaran begitu jelas apa yang So Ah katakana, lebih miripnya dengan bergumam. Tapi masih bisa terdengar di telinga Ina. “ Ya ampun! Kau memangnya mendapat hukuman lagi?” Ina menjongkokkan tubuhnya, menatap wajah So Ah yang masih menerawangkan pandangan kosong. “ Tidak. Aku dapat tugas tambahan..” Jawanya—So Ah—lemah. “dari pada kau mengganggu aktifitas belajar-mengajar di kelas, lebih baik kau pergi ke UKS sana!” So Ah diam sejenak untuk berpikir, dan akhirnya tanpa menguucapkan sepetah kata pun ia berjalan dengan lunglai menuju ruang kesehatan yang letaknya hanya beberapa kelas dari kelasnya. 

“Permisi.. boleh saya tidur disini? Kepala saya pusing sekali..” So Ah membuka pintu setengah, emngedarkan pandangan ke seluruh ruangan. “ Silahkan saja..” jawab salah satu suster penjaga ruang kesehatan. “Ghamsa habnida..”

Ia—So Ah—merebahkan seluruh tubuh dan kepalanya yang terasa berat. “Siapa disana?” Tanya seseorang dari sebelah, “Kim So Ah.” Katanya dengan suara yang pecah dan serak. “ Kau sakit?” oran itu membuka tirai pembatas yang terurai dari bawah hingga atas.. “ Kevin Oppa..” lirihnya—So Ah--. 

“ Tidak, hanya.. ngantuk, dan kepalaku pusing sedikit”  “Oppa sendiri?”

“Well.. aku kesini karena aku drop tadi..” jelas Kevin sambil menatap langit-langit bangunan ruang kesehatan.

“DROP?! Penyakit asmamu itu masih belum hilang?!” So Ah beranjak mendudukkan posisinya dan menghampiri Kevin. “Ya! Bagaimana bisa hilang kalau ini adalah penyakit turunan? Lagi pula aku tidak selemah itu.. tenang saja..”

“Oppa, oh iya.. bisa tidak hari ini aku mampir ke rumahmu sebentar? Aku sudah rindu sekali dengan Ahjussi, Ahjumma, juga Deanna eonnie..” katanya—So Ah—dengan wajah memelas. 

“Tentu saja.. malahan itu yang kumau!.. haaha..”

“Sudahlah sana.. tidur! Nanti kalau kau pingsan di rumahku, jadi berabe deh semuanya..” Kevin terkekeh. “Arasseo..” dalam sekejap. Kevin sudah tidak mendengar suara so Ah lagi, matanya—So Ah—sudah terpejam. “Kau ini.. belum juga satu menit sudah tertidur pulas! Dasar..”

-end author pov-

-Kevin pov-

Aku meratapi gadis yang sedang tidur di sebelahku, wajahnya begitu manis dan polos saat sedang tertidur seperti ini. entah kenapa melihatnya dalam kondisi tidurnya saat ini membuat kedua mataku sulit berputar dan enggan mengalihkan pandanganku darinya. Sebuah senyum tertera jelas di wajahku, ya. Aku memang merindukan saat-saat seperti ini, saat-saat dimana kita bisa bersama kembali sejak terakhir kali kami bertemu kurang lebih hampir tiga tahun yang lalu. Kuarahkan jemari-jemariku untuk mengikuti postur tidur wajahnya dari kejauhan.

#BRAKKKK

Terdenar suara gebrakkan pintu dari luar, sontak membuat aktifitasku teralihkan. “ Hyunghhh.. kauwhh.. tidak.. apha-apha..” Aishh~ Lee Kiseop ini! dia memegangi kedua lututnya dan mencoba mengatur helaan nafasnya yang tersenggal-senggal. 

“Aiishh~ kau ini.. awas kalau sampai dia terbangun.” Ku arahkan kembali pandanganku pada So Ah yang sedang tertidur pulas. “ Hyung! Bukannya ini Hobae (*adik kelas/ junior) kita yang sekelompok bersama kita itu? Dia Kim So Ah kan?” SooHyun hyung menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya pada So Ah. 

“eumm..” gumamku setengah berbisik. “Kau.. menyukainya ya???” Apa maksud dari senyum jahil dan naikan kedua alis mereka itu? Mereka meledekku, huh? “Aishh~ aku hanaya rindu padanya.. dulu kami sudah seperti saudara yang tumbuh bersama saat duduk di bangku SMP” jelasku. 

“Ahh~ tapi.. dia cantik juga ya!” aku mencibirkan sebelah bibirku. “ sudahlah.. kau tunggu saja di luar! Aku ingin tidur.. lemas sekali rasanya tubuhku ini!” ku tutup pelan kedua mataku dengan lenganku diatasnya. “baiklah-baiklah.. tapi kalau ada perlu sesuatu panggil kami saja di depan ya?!” aku hanya menganggukkan kepalaku pelan, disusul dengan Kepergian Kiseop dan SooHyun.

********

FlashBack..

“ So Ah-ya..” Ku panggil So Ah yang telah asyik berbincang-bincang dengan teman sekelasnya. 

“Sebentar ya..” ia meniggalkan segerombolan tean-temannya lalu menghampiriku. “ eum.. bagaimana saat pulang sekolah nanti kita mampir ke suatu tempat sambil membicarakan tentang project teater kita?..” Aduh~ rasanya aku tidak sanggup menatap matanya sekarang. 

“eumm..” please.. “ Baiklah.. kita bertemu sepulang sekolah nanti di depan pintu gerbang utara ya?.. soalnya aku lagi sibuk sekarang. Tidak apa-apa kan, Oppa?” aku mengelus-elus kepalanya lalu.. “ Baiklah..Annyeong~” sampai disinilah pertemuan kami. Rasanya tidak sabar sekali untuk menunggu waktu pulang sekolah nanti!^^,

-Flashback end-

-so ah pov

******

Aku bangun dari tidur lelapku. Kutolehkan pandangan ke sebelah tempat tidur. Ternyata Kevin Oppa sudah pergi.  Ku angkat dan melangkahkan kakiku menuju pintu luar. “Sepertinya lebih baik jika aku istirahat di rumah..”

******

“Aku pulang..” Bodohnya diriku! Bagaimana mau ada orang di rumah! Mereka semua kan masih berada di sekolah.. Memang aku pulang dengan izin. Aku benar-benar ngantuk dan tidak enak badan sekarang.

Kulepas sepatuku dan berlanjut menghempaskan seluruh tubuhku diatas sofa panjang. Kuraih remote TV dan menonton beberapa acara TV..

“hoammmm…” kenapa aku terus menguap hari ini? yahh~ tidak bisa di pungkiri bahwa aku sedang mengalami masa MENGANTUK BERAT!

****** 

- Kibum POv-

"Aku pulang.." 

"..." tidak ada seorang pun yang menjawab. kenapa sepi sekali sih? bukannya tadi kudengar So Ah sudah pulang, ya? ku lempar pelan tas ku meja makan, dan meneguk segelas air putih dingin... 

setelah itu aku memutuskan untuk menonton beberapa acara Tv. yang mungkin bisa menghilangkan gundahku.

"YA! KIM SO AH!!!!"

-TBC-

Friday, December 23, 2011

Accidently Married Couple (Part 3)

Accidently Married Couple


Part 3

START!

-Preview-

So Ah’s POV

“ahhh~” begitu bangun dari tidurku,  aku dikagetkan dengan sosok Kibum yang terkapar tidur di sebelahku dengan telanjang.  “Aishh~ Jinjja!.. Ya! Kim SO AH!! Bisakah kau memelankan frekuensi suaramu itu sedikit?! Berisik tahu!” Bagaimana dia bisa merespon dengan se-enteng itu? “ Yaa! Apa yang telah kau lakukan tadi malam..” Aku mengintip ke dalam selimut untuk mengecek apakah pakaianku ini masih lengkap atau.. “ Kau, tidak ingat?” Ki Bum bertanya dengan setengah nyawanya. “ Eh? Ingat apa?” aku mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam..
-FlashBack-
aku mencoba mendorong-dorongnya agar dia jatuh ke bawah. Tapi hasilnya? NIHIL! Tidak ada gerakkan yg menunjukkan perlawanan. ‘Sial! Dia kuat sekali sih..’ hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati..  aku terpaksa membiarkannya tidur seperti ini. aku mencoba untuk tenang dan tidur di sampingnya, tapi aku tidak bisa!!!! “Aishh~”aku mengacak-acak rambutku kasar, lalu beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kakiku kearah kulkas di dekat TV untuk mencari beberapa botol Seoju.
“Ahh~ ada 3!!” ucapku senang. Aku mengambil ketiga botol seoju tersebut lalu berjalan kea rah balkon.. aku juga mengambil emangkuk kecil Kimchi untuk menemaniku minum Seoju. “Ahhh~..” aku meneguk gelas, demi gelas sambil menatap indahnya langit malam yang berbintang.
“Ya! Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini?” Ku alihkan pandanganku pada suara yang berasal dari pintu balkon. “ Ki Bum..” tanyaku heran. “ Kenapa kau belum tidur?.. bukannya tadi kau—“ kataku sambil mengisyaratkan dengan bahasa jemariku yang menunjuk kearah kamar kami. “Aisshhh~ memang. Tapi setelah aku terbangun, aku tidak bisa tidur lagi..” Dia ikut duduk di sampingku sambil sesekali menatap kearah langit malam. “Berikan itu..” ia mengkerutkan alisnya ambil menunjuk-nunjuk gelas seoju yang masih terletak di tanganku. “Wae?” tanyaku polos. “Aishhh…” dia merebut paksa gelas itu, menuangkan seoju segelas itu penuh, dan lalu meneguknya dalam satu tegukan. “ahh~..” aku hanya bisa diam tanpa kata melihatnya disini, tapi.. kenpa berada disini. Bersamanya. Terasa begitu nyaman? Apa arti dari semua ini?..
#Deg, Deg, Deg..#
Jantungku berdegup kencang saat kutatap matanya lebih dalam. Apa munkin aku--… Ani, Ani.. dia namja gila dan setan mesum yang paling ku benci di dunia ini. aku segera menepis pikiranku dengan menepuk-nepuk pipiku.
Beberapa saat kemudian..
-Author’s POV-
“Ya.! *hiccup.. sebenarny.. *hiccup.. –a *hiccup..” Kibum berbicara sambil mendekatkan wajah kearah So Ah, juga menunjuk-nunjuk pundak So Ah dengan satu buah jari telunjuknya. “ Aku tidak membencimu..” sambar so ah yang saat itu sedang mabuk pula.
“ Hanya saja.. kau yang berusaha membuatmu membenciku..” cara mabuk So Ah berbeda dari cara mabuk yang dialami Kibum. Kalau Kibum akan cegukan sepanjang dirinya mabuk, kalau So Ah akan mengungkapkan apa saja yang ada di benaknya sambil menyipitkan matanya (?).
Lalu tanpa sadar, mereka mendekatkan wajah mereka sampai jarak mereka hanya tinggal 5 cm lagi.. dan
CHU~ sebuah ciuman pertama selama kehidupan pernikahan mereka pun terjadi..
***
“Ahhh~ kenapa disini panas sekali sih?!” So Ah mulai membuka satu per satu kancing bajunya dan melemparkan sembarang tempat. Hal yang sama juga terjadi pada Kibum yang juga sedang merasa kegerahan, merogoh-rogoh lehernya lalu membuka kancing bajunya satu per satu.  “ begini lebih baik..” kata mereka bergantian lalu terditur pulas.
-Flashback end-
-Back to the time-
So Ah masih diam tidak percaya setelah mengingat-ingat kembali kejadian semalam. Hanya bisa melongo. Terjebak antara pikiran ‘Tidak Percaya’ dan ‘ Kebingungan’. “Sudah ingat?” Tanya Kibum sambil bermalas-malasan. “…” So Ah hanya menjawab pertanyaan Kibum dengan anggukan kecil, itu pun juga tanpa menatap Kibum.
-Author POV’s end-
-Kibum’s POV-
Ishh~ yeoja ini benar-benar keterlaluan bodohnya, atau dia memang keterlaluan polosnya sih?.. Sudahlah, dari pada aku pusing-pusing memikirkan tingkahnya! Mendingan aku mandi aja biar segar! “Sudah! Lebih baik aku mandi..” aku melangkahkan langkah kakiku yang masih sempoyongan. Menuju arah kamar mandi yangl letaknya tidak seberapa jauh dari letak pintu masuk kamar.
Aku membuka lalu menutup kembali pintu kamar mandi. Lalu mendapati diriku yang ada di pantulan kaca. ‘Apakah benar tadi malam kami melakukan ‘itu’ ?’ itulah pertanyaan yang dari tadi sibuk berputar di pikiranku. ‘Tapi tentang kejadian kami melakukan ‘itu’ aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa.. AISHHH~’ aku mengacak-acak rambutku kasar…
-Kibum POV end-
-So Ah POV-
Aku masih melongo meratapi semua ini. tidak percaya. Kalau benar kami melakukan ‘itu’ semalam, tapi kenapa ingatan-ingatan itu tidak juga muncul, yang kuingat tentang peristiwa tadi malam hanyalah.. ‘ Kami minum arak bersama, setelah kami mabuk kami perig tidur dan saking kegerahannya kami melepas pakaian kami dan melemparnya kesembarang tempat’ hanya itu. Selanjutnya, tidak ada bayangan atau ingatan pun yang kuingat. Nahh~ mungkin memang kami tidak dan belum melakukan apa-apa. Fiuhhh~
-.-“
“Ya! Kim So Ah! Kau tidak ingin mandi?.. mau ketinggalan pesawat?!” bentak Kibum dari luar pintu kamar mandi. Aku tersadar dari lamunanku lalu segera mengambil handukku dan mandi. “Ah.. ye ye..”
“Ishh~ kau ini? lagian kenapa sih orang kejadian gitu aja ampe di inget-inget banget? Lagian waja kan kalo kita melakukan hal itu? Kita ini kan suami istri!” jelasnya lagi. Mwo? Wajar? Memang kami ini adalah sepasang suami-istri! Tapi kan hanya terikat dengan sebuah lembar Kontrak!!! “Yakkk! Neo michosseo? (*Apa kau gila?) pernikahan kita kan bukan pernikahan sungguhan, namja gila!” aku mendorongnya ke luar lalu menutupp pintu kamar mandi sekeras-kerasnya.
Terdengar suara gerutu-gerutuan kecil dari luar pintu kamar mandi. Palingan dia lagi marah-marah sendiri kayak orang gila. kan sesuai namanya ‘namja gila’ kekekekek…
-----------------
Aku berkaca di depan cermin sambil menyikat gigiku, dan menguncir rambutku yang bisa dibilang cukup panjang. Pandanganku masih tidak bisa lepas dari wajahku, “apakah belakangan ini aku terlalu banyak berpikir ya?” aku berbicara pada diriku sendiri. “Yahh~ ppalliwa!!! Kau mau ketinggalan pesawat?!” kibum mengetuk pintu kasar dari luar. Aishh~ aku kan baru masuk, udah di gedor aja!. “Iya Iya sabar..” mau tidak mau aku hanya akan menyikat gigiku dan mencuci mukaku alu mengganti pakaianku. Dari pada dia marah-marah lagi nanti.
“ lama banget si..h” kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu? Memangnya apa yang salah dengan diriku? Atau fashionku mungkin? “Wae?” tanyaku ringan. “Ani..” jawabnya sambil menggaruk-garuk tengkuknya.. “ Hanya saja.. Kenapa kau berpakaian serba mini seperti itu?” Memangnya apa yang salah dengan ini? aku hanya memakai baju pemberian Eomeonim (*Ibu Kibum) agar dia tidak sakit hati. “ Ini kan haidah dari ibumu.. jadi aku ingin memakainya agar ibumu itu tidak sakit hati, dia sudah memberikan pakaian ini padaku. Tapi aku tidak memakainya.. amkanya aku mau pakai sekarang..” jelasku.
-So Ah POV end-
-Kibum POV-
“ Ini kan haidah dari ibumu.. jadi aku ingin memakainya agar ibumu itu tidak sakit hati, dia sudah memberikan pakaian ini padaku. Tapi aku tidak memakainya.. makanya aku mau pakai sekarang..” jelasnya. Cih.. tapi kan dengan cara berpakaiannya yang serba mini begini kan pasti akan menarik perhatian namja-namja lain. “mmm.. atau kau cemburu yaaa?” duh.. kenapa kau salah tingkah begini ya? Mau pake baju apa kek, style apa kek, itu juga urusan dia.. “A.. ani..” sudah cepat bereskan barangmu lalu kita check out. Sudah hampir jam 1” fiuhh~ untung aku aktoryang baik (?) bisa sedikit berakting di depannya. Coba kalau tadi aku bilang aku cemburu. Bisa-bisa nanti dia besar kepala! Kulihat dia mencibirkan bibirnya dari kejauhan. Yahh~ memang kadang-kadang dia itu lucu… Hah?! Apa?! Lucu?! Apa yang baru saja kau katakan Kim Ki Bum?! Apa aku sudah gila?!
*****
“Ternyata pesawat baru akan take-off dua jam lagi.. hufttt.. apa yang harus kita lakukan?” katanya dengan seraut wajah masam. “Apa lagi? Ya menunggu lah!.. walaupun aku benci menunggu, tetapi kita harus!” jawabku dingin.
Suasana menjadi hening sejenak, kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing, aku lebih memilih untuk memainkan I-Pod ku yang kebetulan baterainya masih terisi penuh. Dan dia.. di sepertinya sedang tidak melakukan apa-apa…
“Aku puny ide” katanya sambil berdiri dan mengacungkan cari telunjuknya. Aku hanya menaikan alisku dan menatapnya. “Bagaimana kalau sambil menunggu pesawat take-off, kita berkeliling-keliling dulu sambil mencari oleh-oleh untuk keluarga kita masing-masing?!” se-senang itu kah dia? “Shireo! Kau saja sana pergi sendiri..” tolakku mentah-mentah. “Kibum.. jebal.. eo?” sialan kenapa dia harus menggunakan jurus puppy-eyes-nya itu sih? Ajj~ ya sudahlah.. “Baiklah, baiklah..” kataku pasrah..
“Yayy!” DEG! Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini? ini kan hanya sebuah pelukan saja? Apa mungkin aku.. SEOLMA!.. apa yang kau pikirkan Kim Kibum!? Kau pasti sudah gila!.
“eh? Maaf..” dia melepas rangkulannya lalu segera berlalu menjelajahi satu- per satu toko souvenir. Aku hanya bisa mengikutinya dengan pasrah dan malas.. ahh~ aku malas sekali!!!.. “Lihat itu.. dia cantik sekali ya..” Ishh~ ada apa dengan para namja itu di luar sana? Apa cantik? Memang ku akui sih.. istriku itu memang ‘SEDIKIT’ cantik..
Aku melingkarkan pelukanku di pinggangnya dan menyandarkan wajahku pada bahunya. “Kibum..” dia terlihat shock. Tapi kulakukan semua ini demi semua namja untuk tidak menggangguku atau dia lagi.. biar mereka tahu kalau kami adalah pasangan yang sudah saling memiliki! “ diam saja! Tetaplah seperti ini..” kataku dalam. “ma-masalahnya sulit bagiku untuk bernapas, setidaknya.. bisakah kau longgarkan pelukanmu i..ni?” dia tergagap. Bisa kulihat dari belakang sini pipinya yang merah seperti tomat. Mungkin dia malu. “ Kalau aku tidak mau?” godaku. “ Ishh~ kau ini sebenarnya apa-apaan sih?”
--- Mohon perhatian. Penumpang yang erhormat.. Pesawat Korean Air yang akan berangkat ke Seoul akan segera Take-Off.. mohon pada para penumpang yang belum menempati kursinya segera menmpati kursi anda di dalam pesawat ------
“Ahh~ ayo cepat!.. kita bisa ketinggalan pesawat.” Kataku sambil mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “Ah~ iya, iya.. benar” So Ah salah tingkah kali ini, belum lagi pipinya yang sudah memerah seperti tomat karena menahan rasa malunya. Kadang dia manis juga ya.. hah?! Jangan memikirkan dia lagi…. Lupakan sajalah..!

Kenapa di bisa tidur secepat itu? Langsung pulas pula? Aku baru kali ini menemukan orang PeLor seperti istriku yang satu ini.. “ So Ah.. sudah tidur?” aku melambai-lambaikan telapak tanganku tepat di depan wajahnya. “….” Tidak ada jawaban. Berarti aku benar!. Dia tertidur pulas.

Menit demi menit, jam demi jam terus berlalu. Tidak terasa sudah 3 jam kami berada dalam penerbangan. Akhirnya hanya tinggal ½ jam lagi kita akan mendarat di Seoul.

---------- Mohon perhatian, kepda para pemunpang harap melepas seat-belt anda dan keluar 
dari pesawat.---------------

-Kibum POv end-

-So Ah Pov-

Samar-samar, kubuka penglihatanku kembali dari tidur. “ Dimana ini? Jam berapa sekarang..” itu adalah hal pertama yang kutanyakan pada Kibum. “eumm? Jam 3 sore..” jawabnya lirih. “ Kau lelah?” tanyaku. Habis ketahuan sekali dari gerak-gerik tubuhnya yang setiap kali mengulet dan suaranya yang serak dan lirih. “ Sedikit..” aku lama-lama jadi tidak tega jika harus bersikap selayaknya MUSUH padanya. “ Ayo kita pulang..” ajakku sambil menatapnya.

Kemudian kami mengambil barang kami dari tempat penitipan barang yang habis di turunkan dari pesawat. Pandangan mataku masih saja tidak mau lepas dari Kibum, suamiku lebih tepatnya. “ Nanti.. lebih baik kau menginap di apartemenku saja. Lebih dekat dari sini.” Ucapku penuh arti. “ eumm..” jawabnya singkat.

*******

-Apartemenku.

“ Ina-ya~.. Ina..” aku meletakkan barang-barangku di meja kecil di ruang tengah. Berteriak-teriak memanggil Ina, tidak bisa ku pungkiri.. aku bahkan lebih merindukan Ina dari pada Eomma dan Appaku sendiri. “ Eo! Kim So Ah..” katanya.. kami berdua menjulurkan tangan dan berputar-putar sambil bertukar pelukan. “Ya! Kemana saja kau selama ini?.” tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. “ berjalan-jala dengan suamiku.. lebih tepatnya bulan madu..”

“Oh iya.. ini suamiku.. Kim ki bum”

-end so ah pov-

-kibum pov-

“Oh iya.. ini suamiku, Kim Ki bum..” Tidak. Kepalaku pusing sekali..  “ Annyeon haseyo..” aku menbalas jabatan tangannya. “ Yoo Ina ibnida..” katanya sambil tersenyum ramah, “ Kim Ki Bum ibnida..” aku tidak bisa berhenti memegangi kepalaku yang rasanya seperti di pukul-pukul oleh palu.. sakit sekali!.

“ Kibum.. sebaiknya kau beristirahat di kamarku saja. Nanti biar aku berbagi kamar dengan Ina.” Kemudian So Ah membantuku dan menunjukkan arah kamarnya. “Sebaiknya kau istirahat dulu disini..” memang. Aku tahu dia masih canggung denganku, mungkin karena back-hug tadi. “ Ahh~ sebelum itu..” aku berjalan kearah tumpukan koper di sebelah tempat tidur yang sudah kubawa tadi. “ Ini untukmu..”

“ini kan..” aku melemparkan bungkusan yang berisi baju yang waktu itu kita perebutkan dulu, bungkusannya masih rapi, dan lipatan bajunya juga masih utuh.  “ Ahh` baju ini!!!!” sebahagia itukah dia? Melompat-lompat kesana kemari.. dan terakhir dia memelukku erat.

DEG! Kenapa jantungku jadi aneh begini sih? Berdegub lebih cepat dari biasanya, sama sepeti tadi yang di bandara.. Apa jangan-jangan.. aku menyukainya? GILA sekali aku kalau aku sampai benar-benar menyukainya. “ Ya! Tidak usah berlebihan gitu deh.. itu Cuma sekedar baju biasa. 

Jadi lepaskan aku.” Aku kembali memasang watak asliku yang bisa juga disebut ‘dingin’ 
“ehmm.. Gomawo..” dia berpi berlalu keluar meninggalkanku. Aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah lakunya yang kadang-kadang kekanak-kanakan itu.

-Kibum’s pov end-

-So ah pov-

Aku berusaha se-tenang mungkin saat menuruni tangga supaya aku tidak terjatuh. Yaa~ kalian 
tahu sendiri kalau hidupku ini tidak bisa terlepas dari ‘KECEROBOHANKU’ dan juga 

‘KESIALANKU’ setiap harinya. Begitu aku sampai di bawah..

“YOO INAAAA!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya sambil berlari dan melompat-lompat di depannya. “Yaa!! Apa-apaan kau ini? makananku muncrat kan?!” hehe.. iya sih, aku memang mengagetannya! Ahh~ tapi aku tidak peduli! “ Ta-DA!.” Aku menunjukkan gaun hitam itu pada Ina. “WUAHHH~~~ bagaimana kau mendapatkannya? Kau mengancam ingin membunuhnya ata—“

“Eiii~ memangnya aku sekejam itu apa?”

“Tidak sih.. tapi aku tahu lah, kau bisa benar-benar berbuat nekad. Jadi.. bagaimana cara kau mendapati baju ini?” Tanya Ina sambil sesekali mencoba mengukur ukuran baju ini di tubuhku.

“DIa memberikannya padaku barusan!” aku masih tidak percaya dengan semua ini. setelah kesialan terbesar yang kualami pagi ini bersamanya, ternyata ada hikmahnya juga ya! Yang jelas kebahagiaanku hari ini adalah yang terpenting sekarang… Ahhh~ lama-lama kalau dia bersikap seperti ini setiap hari mungkin aku bisa… “ANDWAEEE!!” aku menepuk-nepuk pipiku lumayan keras. “Wae?” ahH~ ina pasti terkejut,tadi aku senangnya bukan main, sekarang… “ ani.. aniyeyo..” lalu aku berlalu ke kamar Ina.

-So Ah pov end-

-author pov-

“ya tuhan.. kepalaku pusing sekali..” Kibum hanya bisa diam dan tidak bisa berkutik. Mau duduk saja susah, kepalanya pasti akan terasa lebih pusing lagi. “ Kibum-ah~ kwaenchana?” Kibum tidak bergeming. Lalu So Ah menghampirinya dan duduk di ujung tempat tidur untuk mengecek keadaanya. Kemudian meraba kening Kibum. “ Omo! Kau panas sekali.. Kibum-ah~ kau sudah makan belum?” Tanya So Ah lembut. Ia ragu-ragu dan mengurungkan niatnya untuk membelai kening Kibum. “Bi-biar.. kucek dulu…apakah kau kena demam..” akhirnya dengan mengumpulkan segenap keberanian, So Ah menggeser rambut Kibum (*poni lebih tepatnya) dan perlahan menyentuh Kibum dan..

“OMO!.. kau mendidih..” kata So Ah sambil menatap Kibum berdingik ngeri. Kibum tidak merespon,

-author pov end-

-so ah pov-

Aku sempat mengurungkan niatku untuk mengecek keadaanya. Tapi kemudian aku berpikir, mungkin aku harus melakukan ini, kalau aku tidak mau membiarkannya mati dengan cara seperti ini. “OMO! Kau mendidih..” aku menatapnya sambil berdengik ngeri. Badannya benar-benar panas sekali!. “ Kibum-ah~ kau.. sudah makan belum?” tetapi Kibum tidak merespon. “ 

Tunggu disini.. sebentar ya.. aku akan ke dapur untuk mengecek persediaan makanan!” kemudian aku melanjutkan langkahku yang membabi buta, mengobrak-abrik seisi dapur dan kulkasku. “ Yaa! Apa yang kaulakukan?! Kenapa jadi berantakan begini?!” kulihat sekilas Ina yang melongo memandangi plastic-plastik yang berisi makanan telah bertebaran dimana-mana.  “ Aku harus mencari makanan…” gumamku pelan. “ Ini semua adalah makanan, Kim So Ah!” kata Ina kemudian memungut plastic-plastik belanjaan dan ditaruhnya di meja makan. “ Bukan begitu, aku ingin mencari makanan yang baik dimakan untuk orang sakit! Itu semua kan makanan instan..” hanya menghentikan aktifitasku sebentar kemudian kembali melanjutkan. “ Memangnya kau sakit? Atau Kibum oppa?” Ishh~ kenapa sih dia banyak nanya? Aku lagi konsentrasi nih… “ Kibum..” jawabku singkat. Ina hanya membuat simpul mulut berbentuk O. “ Ina-ya~ bisa kah kau membantuku membuat makanan untuk Kibum?” ..

“Oh keureyo~.. arasseoyo.”

******

“Kibum, bangun..” ku senggol kakinya dengan sebelah tanganku. “mm..” dia hanya menjawab singkat lalu mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk. “ Makan dulu” kuhampiri dan duduk di sebelahnya. “Wajahmu pucat sekali.. memangnya tadi pagi kau tidak makan?” isshh~ aku baru ingat! Tadi pagi kan kita habis mandi langsung berangkat ke Bandara! “ Yasudah cepat makan..aaahhh~..” aku menyodorkan sendok berisi bubur. “ Kenapa diam saja? Cepat..”

-so ah pov end-

-kibum pov-

. “ Makan dulu” dia menghampiriku. “Wajahmu pucat sekali.. memangnya tadi pagi kau tidak makan?” “ Yasudah cepat makan..aaahhh~..” So Ah menyodorkan sendok berisi bubur. “ 

Kenapa diam saja? Cepat..” aku hanya menatapnya. Perasaanku sekarang campur aduk antara heran, berterim kasih,.. kenapa berada di dekatnya sangat nyaman dan.. kenapa jantungku berdebar-debar begini?

“eum..?” dia menyodorkan lebih dekat sendok yang berisi bubur itu. Tanpa berpikir panjang, aku melahap bubur itu.. “ Anak pintar..” saat ini rasanyamelihatnya tersenyum senang itu.. membuat hatiku lega sekaligus menjadi senang juga. Ada apa sebenarnya denganku ini? 

“eumm.. ku tinggal ke toilet sebentar ya..” aku hanya mengangguk lemah, kemudian melanjutkan kegiatanku, makan. 

-kibum pov end-

-author pov-

Kemudian So Ah menceppatkan langkah kakinya untuk kelua dari kamar.. “Huhhfttt.. hufttt. Ada apa denganku sih? Kenapa rasanya panas sekali?” So Ah mengipas-ngipaskan tangannya di sekitar lehernya. “ Sebaiknya aku kembali masuk saja..”

#Brukkk..

Pintu tertutup lumayan keras. “Kalau sudah selesai makan sebaiknya kau kembali tidur.” ”aku akan membawa nampan ini kebawah..” tapi kemudian tangan Kibum memegang pergelangan oangan So Ah yang membuatnya menghentikan langkahnya (*So Ah). “Kajima..” kata Kibum lirih.. suaranya serak dan pecah. “ Tetaplah disini..” Lanjutnya. “Tapi bagaimana dengan….mmpphhhh”

CHU~

So Ah membelalakkan matanya setelah ia sadar bibirnya dan bibir Kibum sudah beradu. “Tetaplah disini.. kumohon..” Kata Kibum kesekian kalinya.

“…..” So Ah tidak membalas Kibum dengan kata-kata atau anggutan. Matanya masih membelalak dan mulutnya masih terbuka. Ya, dia masih shock karena ciuman lembut nan singkat barusan. So Ah hanya mengikuti isyarat tangan Kibum untuk duduk di sebelahnya.

*****

“Kim So Ah su---“ Ina memanggil So Ah dengan tujuan utnuk mengajak makan malam dan menyusulnya ke kamar.. tapi di kamar, dia mendapati So Ah dan Kibum sedang idur pulas sambil berangkulan. “Sebaiknya aku tidak menggangu mereka.” Kata ina sambil terkekeh lalu kembali menutup pintu dengan pelan dan hati-hati dia tidak ingin merusak momen-momen sahabatnya bersama sumi tercinta.. kekekek..

-Keesokan paginya..

“Hoammmm…mmmm..” So Ah membuka matanya yang masih berat .dengan perlahan. Ia bergerak sedikit, tapi dia merasa ada seseorang yang tengah mendekapnya. Dan orang itu tidak adalah.. “Kibum.” Katanya dengan matanya yang masih setengah terbuka. Ia tersenyum lega lalu memegang kening Kibum dengan pungung tangannya. “Sudah turun..hoamm..” ia menguap untuk kesekian kalinya.

“mmmhhh..” gerakkan-gerakkan kecilnya telah membangunkan Kibum yang tengah tertidur..  “ 
Kau.. sudah bangun?” Tanya Kibum kikuk. “Ne? ne…” jawab So ah yang tidak kalah kikuknya. Mereka berdua tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana sekarang.

-author pov end-

-kibum pov-

“ eumm..” ucap kami berbarengan. Kenapa semua jadi canggung gini sih? “kau duluan..” kataku gugup. Aku hanya bisa tersnyum simpul. “ani.. kau duluan..” kata So Ah. “baiklah.. aku akan mandi duluan” “ahh~ ye.” Kemudian dia pergi menjauh dan masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar. “hufttt.. kenapa semua mendadak menjadi canggung gini sih? Perasaan kemarin aja kita masih berantem berkelanjutan kok. Ahh~ MOLLA MOLLA MOLLA!”

********
@Ruang Makan

“Wuahh~ kalian sudah rapi rupanya..bagaimana tadi malam” Ishh~ apa-apaan si Ina itu? 
‘Bagaimana tadi malam?’ memangnya kami melakukan apa? “ Ahh~ Ina.. kamu itu apa-apaan sih?” kulihat So Ah menjawab duluan, tidak ketinggalan senggolan sikutnya. “ Ya~ tenagamu itu kuat tau! Apo…” Cih~ dasar gadis-gadis..

“Oh iya, Kibum Oppa..”

“Kibum Oppa?.. kau bercanda ya? Dia ini kan suamiku, kita juga cumin beda 1 tahun doank kok..” Selak So Ah.. “Yaa! Bagaimana pun aku ini juga suamimu, aku juga lebih tua darimu! 

Walaupun hanya setahun sih.. tapi tetap saja!.. Ina memanggil aku dengan sebutan Oppa berarti dia masih sopan. Tidak seperti kamu..” aku menoyol keningnya. “Yaa! Kim Ki Bum..” So Ah menatapku dengan tampang ‘membunuh’ nya dan dengan sikap siaga untuk melemparkan sendok ke arahku.. “Ya! Ya! Ya!.. kalian itu apa-apaan sih? Sudah besar! Sudah suami-istri pula!.. asih saja bertengkar!..” Ina melerai kami.

“DIA YANG MULAI!” Serentak kami menjawab, sambil membuang muka satu sama lain. “ku akui kalian ini ternyata cocok juga ya..”  Ya! Apa-apaan dia ini? Kami? Cocok? No WAY! “ DIAM KAU!” jelas kami berbarengan.

“Aisshhh~ sudah-sudah! Jangan bertengkar terus! Lebih baik kalian habiskan makanan kalian lalu berangkat sana!..” Aku harus berangkat bersamanya? “nanti kalau ada yang curiga gimana?” responku cepat.

-kbum pov end-

-so ah pov-

“Nanti kalau ada yang curiga bagaimana?” respon Kibum cepat. Oh iya ya? Kalau ada yang curiga bagaimana? terus nanit kalau aku dicincang sama fans-fans maniaknya Kibum gimana? Ihh~ membayangkannya membuatku berdengik ngeri.

“Benar juga.. sih.” Kalau dipikir-pikir, mendingan kita bersikap normalnya kayak waktu kita belum pernah ketemu deh. “ Iya sih.. jadi gimana??” suasana hening sejenak. Aku berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.  “Ina, kalau begitu.. hari ini aku berangkat sama kamu ya?” aku memasang tampang memelasku, yahh~ itung-itung jurus buat ngerebut hati Ina. “Iya iya..” jawab Ina pasrah. “Lho? Terus aku gimana?” Oh Iya, si Setan mesum ini gimana ya nantinya? 

“mm.. kau naik angkutan umum saja sana..”  “humff.. baiklah (-_-“)q”

*****

@Aula sekolah

Aku berjalan dengan semangat untuk masuk ke ruang teater. Ya! Aku adalah ketua panitia teater sekolah. Berhubung ini adalah tahun kelulusan, kami (*aku dan klub teaterku) berencana untuk menampilkan sebuah drama musical yang di peraankan oleh siswa-siswa lain yang seangkatan dengan kami. Dan hari ini, adalah hari giliran para panitia untuk menggelar sidang panitia 3.

Tapi tia-tiba..

<<BRUKKK>>

Aku merasa telah menabrak seseorang. “Jeoseong habnida..” kubantu orang yang ku tabrak itu untuk membereskan kembali buku-buku tebalnya yang berserakan dimana-mana. “anio.. kwaenchanayo.. lagian aku yang salah karena jalan tidak melihat-lihat. Setelah selesai membereskan buku terakhir, aku membantu orang itu untuk bangun. “Eo! Kevin Oppa..” kataku sambil mengacungkan jari telunjukku tepat ke arahnya. “ Ya! Bukankah kau.. Kim So Ah!” ternyata orang yang kutabrak ini adalah sunbaenimku saat SMP dulu, namanya Kevin Woo.. dia datang dari Amerika waktu itu. “ Eo! Eollaemanindaeyo~ (*sudah lama sekali ya.)” “sini biar ku bantu..”


“Gomawo So Ah-ya~” seulas senyum manis terukir di wajahnya, memang ya. Satu yang tidak juga berubah dari dirinya. Yaitu ke tampanannya yang bisa membuat hati para yeoja meleleh seketika. “ Kenapa kau bisa ada disini?” aku membantu Kevin Oppa membawa cukup banyak buku-buku tebal dan berat ini sambil berjalan dan sedikit berbincang. “ Aku? Aku mau ke gedung teater.. aku bisa terlambat rapat nanti.” Jelasku. “JInjjayo? Aku juga mau kesana..  kau panitia ya?” aku mengangguk mantap. “Oppa. Bagaimana kabarmu? Dan Deanna eonnie? Sehat?” sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Deanna eonnie, kakak perempuannya 
Kevin Oppa. Kami bertiga dulu sangat dekat satu sama lain. “semuanya baik.. oh ya! Dan kau tahu? Hampir setiap hari sejak kelulusan kita, eomma selalu menanyakan dirimu..’ Kevin, kenapa So Ah tidak kemari lagi’, ‘Kevin, kenapa belakangan ini eomma jarang melihatnya.. dan bla bla bla..” aku hanya bisa terkekeh sambil menutup mulut melihat mimik-mimik raut wajah 
ahjumma..

“Oppa keumanhae..”

“Hehe.. mau ke teater bersama?” ajak Kevin Oppa.

“ tentu.. kajja” kataku sambil membawa setumpuk buku yang disenderkan ke dadaku.

******

-author pov-

‘Aishhh~ jinjja!.. kemana sih anak itu? Sudah tahu rapat panitia hampir di mulai! Kenapa masih belum datang juga?’ pekik Kibum dalam hati. Sesekali ia mengecek arloji hitam hitam yang terlingkar di pergelangan tangan kanannya. “Jeoseong habnida.. maaf kamu telat..”
-author pov end-

-kibum pov-

‘Aishh~ jinjja! Kemana sih anak itu? Sudah tahu rapat panitia hampir di mulai! Kenapa masih belum datang juga?’ pekikku dalam hati. Aku melihat jam arloji hitamku yang terlingkar di tangan kiriku, dan mengacak-acak rambutku pelan, hampir frustasi.

“Jeoseong habnida.. yeorobun.. maaf kami terlambat..” akhirnya dia da--.. tunggu! Bagaimana dia bisa kesini bersama Kevin?. Ahh~ kenapa iba-tiba mood-ku jadi jelek begini ya?. “Ah~ iya..” Kiseop menghampiri Kevin lalu memperkenalkannya. “ Semuanya, perhatian. Kita punya anggota teater baru, namanya Kevin Woo..”

“Annyeong haseyo~ Kevin ibnida.. senang bertemu dengan kalian..” kenapa aku sungguh tidak suka melihatnya berdekatan dengan So Ah ya? “ Oppa.. ini bukumu..” cih! Manis sekali dia berbicara pada Kevin? ‘Oppa’ katanya? Aku kan dan Kevin pasti seumuran. Tapi kenapa dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’? “ hai..” sapa Kevin yang lalu menghampiriku. Aku hanya tersenyum simpul sesaat lalu memasang pandangan ‘membunuh’ pada So Ah. Dia hanya menolehkan pandangannya padaku sebentar lalu mengisyaratkan bahasa dari mulutnya ‘Mwo?’ itu kata isyaratnya. Aku hanya mencibirkan bibirku. “dan.. Kevin, 
So Ah.. kalian di bagian penataan panggung ya?” Mwo?! Kevin bersama So Ah?! Jadi mereka satu bagian?! Apa-apaan ini?!  

-kibum pov end-

-so ah pov-

Kulihat kearah Kibum yang sedang menatapku dengan tatapan ‘membunuh’ itu. Memangnya ada yang salah denganku? Aku membuat isyarat kata dari mulut yang menyatakan ‘Mwo?’ padanya. “ dan.. Kevin, So Ah, kalian di bagian penataan panggung ya?”  aku? Bersama Kevin Oppa? “ahh~ ne..” jawab kami semangat lalu ber-hi five.

*****

-Selesai rapat.

“ So Ah-ya~..” Kutolehkan pandangan mataku kebelakang, terlihat Kevin Oppa yang sedang melambai-lambaikan tangannya padaku. “Waeyo, Oppa?” aku menghampirinya. “eum.. nanti sepulang sekolah, aku mau mengajakmu ke rumahku untuk membahas project teather kita. Kau.. tidak keberatan kan?” Wahh~ aku sudah lama sekali tidak ke rumahnya. “Baiklah..” jawabku singkat.

“Mau ke kantin bersamaku?” tanyanya setelah sekian lama berbicang dan berjalan bersama. “ eo! Tentu saja. Kajja” aku merangkul lengan Kevin Oppa lalu berlalu pergi ke kantin sambil setengah berlari.

@Kantin.

“ja..” Kevin Oppa menyodorkan satu kaleng berisi kopi hangat yang diambilnya dari mesin otomatis itu. “Gomawo~.. Eo? Kau masih mengingat ini?” Dia masih ingat dengan kopi kesukaanku? Ini kan sudah lama sekali sampai terakhir kali kami bertemu sebelum lulu SMP. 

“Tentu saja aku ingat.. masa aku lupa..”

“jadi.. sebenarnya kau mau bicara tentang Teater, dalam masalah penataan kan, Oppa?” rasanya memang nikmat, aku masih suka kopi ini sampai sekarang. Ku seruput kopi yang masih hangat di dalam kaleng itu. “ iya. Jadi pantasnya kita pakai konsep apa ya?.. drama musical kita juga tentang apa ya?”

“ Bagaimana kalau kita memakai konsep New York city? Alasanku karena,.. New York itu ramai dan penuh dengan gemerlap. Cocok untuk dijadikan latar dalam drama musical kita tahun ini… temanya ‘Impian dan Harapan’ kan?”..

Kami asyik berbincang sambil tertawa menikmati obrolan kami. Tapi tunggu? Jam berapa sekarang ini? “Omo! Jam 5?!”aku membelakkan mataku lebar0lebar dan segera mengambil tasku. “ Oppa mianhae. Aku harus pulang..” Tapi langkahku terhenti seketika, ternyata Kevin Oppa memegang pergelangan tanganku. “ Mau kuantar?”
*****
“Gomawoyo Oppa..”
“ne.. Kwaenchanayo~.. jadi ini rumahmu?”
“Bukan.. rumahku masih 3 rumah lagi..” kataku.
“Kau yakin tidak ingin diantar sampai rumah?”
“anio.. tidak usah terima kasih..”

“ya sudah kalau begitu.. Jalga..” kata Kevin Oppa membelai rambutku halus.

“ne.. gomawo Oppa sekali lagi.. Annyeong~” lalu aku melangkahkan kakiku menuju rumahku. Sesekali kubalikkan badanku dan kembali melambaikan tanganku menandakan salam perpisahan pada Kevin Oppa.. setelah melihatku masuk ke dalam rumah, Kevin Oppa pun juga berlalu pergi.

------------

“aku pula—Omo!!!” kuelus pelan dadaku. Mengagetkanku saja dia! “Kau ini.. apa-apaan kau? Mengagetkanku saja! Wajahmu itu lhooo.. seram sekali! Kenapa menatapku seperti itu?”